|
|


|
|
 |
Piramid
Ismail Kadare
Istana Mesir gempar
ketika Firaun Cheops tak ingin membangun piramid
seperti para leluhurnya. Para penasehat istana
akhirnya mengungkap mengapa piramid harus dibangun,
karena dengan itulah kekuasaan Firaun disangga. Kisah memukau
yang membedah anatomi kekuasaan dan kediktatoran
politik, dari penulis eksil Albania kandidat peraih
Hadiah Nobel Sastra.
>> selengkapnya...
"Renungan
mencekam tentang brutalitas despotisme politik." ―
New York Times
|
 |
Pak
Tua yang Membaca Kisah Cinta
Luis Sepúlveda
Kisah memukau tentang
belantara Amazon dari penulis Cile yang diasingkan
oleh rezim militer Pinochet. Peraih Hadiah Sastra
Spanyol "Premio de Tigre Juan". Telah diterjemahkan
ke dalam 15 bahasa dan difilmkan ke layar lebar.
>> selengkapnya...
"Dalam novel dengan latar pedalaman Amazon ini, para
petualang cinta dapat mengasah kepekaan indra mereka. Dan
merasakan, tidak hanya melihat, cinta." ―
Pikiran Rakyat
|
 |
Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo
Arthur Asa Berger
Ettore Gnocchi, seorang
teoretikus posmodern kenamaan, ditemukan tewas dalam
jamuan makan malam di rumahnya sendiri. Untuk
melacak pembunuhnya, Inspektur Solomon Hunter sadar
bahwa ia harus membongkar terlebih dahulu apa itu
posmodernisme.
>> selengkapnya...
"Kekuatan novel ini terletak
pada fakta akademis yang solid [...]
Berger rupanya ingin menepati janjinya menutup sebuah
pembunuhan seorang pemikir dengan pemikiran besar juga.
―
Media Indonesia
|
 |
Lidah Sembilu
Damhuri Muhammad
Cerpenis muda berbakat
Damhuri Muhammad menyajikan kumpulan karya
terpilihnya yang telah tersebar di pelbagai media
massa se-Indonesia. Mengupas khazanah
keMinangkabauan (dan lebih luasnya keIndonesiaan)
yang pelan-pelan tergerus arus kapitalisme global
dengan segala kepelikannya.
>> selengkapnya...
"Masyarakat semakin
modern. Akibatnya, mereka semakin materialistis dan
individualistis. Menghadapi semua itu, Damhuri melawan
dengan menciptakan mitos dalam beberapa cerpennya. Di
sinilah, kesakralan mitos berusaha dipasangkan dengan
efek-efek dari modernitas yang sering terlampau mengandalkan
rasio." ―
Pikiran Rakyat
|
|
|