|
Kredit dengan Jaminan Nyawa
E.H.
Kartanegara
Koran Tempo,
24 Juni 2007
Layakkah kaum miskin,
orang-orang papa, atau bahkan para perempuan pengemis yang
buta huruf dan sudah barang tentu tidak memiliki agunan
diberi kredit produktif oleh sebuah bank?
Bagi Muhammad Yunus, mantan
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh,
kredit untuk kaum miskin bukan cuma soal layak atau tidak
layak. Seperti halnya masalah pangan, kredit untuk kaum
miskin adalah keniscayaan yang sudah sampai pada batas akhir
eksistensi manusia: hidup atau mati. Ia menyangkut hak hidup
manusia, hak asasi manusia. Nyawa adalah taruhannya.
Dalam buku yang ditulis bersama
Alan Jolis ini, Yunus menuturkan kepedihannya menyaksikan
bencana kelaparan melanda Bangladesh (1974). Orang-orang
lapar berserak di mana-mana. Mereka cuma terduduk diam,
sulit dibedakan apakah mereka orang tua atau anak-anak,
entah masih hidup atau sudah mati. "Orang-orang lapar tidak
meneriakkan slogan apa pun. Mereka tidak menuntut apa pun
dari kami, penduduk kota yang berkecukupan pangan," tulisnya.
"Mereka hanya terbaring dengan begitu sunyi di pintu-pintu
rumah kami dan menunggu mati."
Kepedihan itu berubah menjadi
kemuakan pada berbagai teori ekonomi yang tumpul dan
bergeming mengatasi kelaparan dan kemiskinan. Kuliah ekonomi
tak ubahnya menonton film Amerika yang menggambarkan sang
jagoan selalu menang di layar bioskop, tapi tak mampu
memberi inspirasi apa-apa untuk memecahkan realitas
kemiskinan di desa-desa. Yunus menggugat, "Bagaimana saya
bisa terus mengajarkan kisah bohong-bohongan ini kepada
mahasiswa saya atas nama ilmu ekonomi?"
Ia lalu memutuskan turun "pangkat"
dari dekan menjadi murid. Para warga Jobra, desa miskin
dekat Kampus Chittagong, ia pilih menjadi dosen-dosennya.
Metode belajarnya menggunakan "pandangan mata cacing" di
tanah tempat kemiskinan itu mengakar. Dengan metode semacam
itulah Yunus sebenarnya sedang mengidentifikasi langsung
akar permasalahan kemiskinan yang tidak pernah dilakukan
para bos lembaga-lembaga donor atau bank-bank yang
semestinya mengucurkan kredit kepada kaum gurem.
Itu pula sebabnya nada bicara
Yunus sempat meninggi ketika manajer sebuah bank meminta
agunan kredit bagi kaum miskin. Agunan kredit dari orang
paling miskin yang bekerja 12 jam sehari? Jaminan itu, bagi
Yunus, jelas tidak masuk akal. "Mereka sangat punya alasan
untuk membayar kembali, yakni untuk mendapat pinjaman lagi
dan bisa melanjutkan hidup esok harinya. Itu jaminan terbaik
yang bisa Anda dapatkan: nyawa mereka," kata dia kepada
manajer bank.
Bank tetaplah bank yang butuh
jaminan, biarpun orang miskin mati bergeletakan di depan
mata mereka. Satu-satunya jalan keluar, Yunus membuka
dompetnya sendiri. Ia memberi pinjaman kepada 42 orang
dengan nilai total cuma 856 taka (kurang dari US$ 27). Dia
terperanjat mengamati daftar nama orang miskin yang butuh
bantuan kredit. "Ya Tuhan, ya Tuhan. Seluruh derita semua
keluarga itu hanya karena tak ada uang US$ 27."
Seorang di antara mereka adalah
Sufiya, yang ternyata hanya memerlukan 22 sen untuk
melepaskan diri dari jeratan perbudakan para rentenir. Nasib
pedih ibu rumah tangga yang bekerja menganyam bambu seperti
dialah yang makin meyakinkan Yunus untuk mendirikan lembaga
finansial khusus bagi kaum miskin yang produktif. Secara
embrio, dari situlah gagasan lahirnya Grameen Bank dengan
modal awal hanya US$ 27.
Pencapaian Grameen Bank yang
paling awal dan berhasil adalah terbukanya akses kaum miskin
bertelanjang kaki--untuk kasus Bangladesh, memiliki
kemampuan berproduksi--pada dunia yang sebelumnya bahkan tak
pernah dibayangkan, yaitu dunia keuangan yang sekarang lazim
disebut microfinance (kredit mikro). Mereka pula yang
kemudian menjadi mayoritas--93 persen--pemilik saham Grameen
Bank. Dari mimbar Penganugerahan Nobel Perdamaian di Oslo,
Norwegia, Desember lalu, masih terngiang suara Yunus yang
berpidato dengan suara gemetar, "Nine elected
representatives of the 7 million borrowers-cum-owners of
Grameen Bank have accompanied me all the way to Oslo to
receive the prize."
Dari segi gagasan kredit mikro,
Grameen Bank bukanlah yang pertama. Bank Rakyat Indonesia
termasuk pelopornya. Bank Dunia mendokumentasi dua jilid
buku, Microfinance Revolution (2001) dan Lesson
from Indonesia, yang menyebut BRI sebagai laboratorium
dunia untuk kredit mikro.
Sejak 1950-an, orang-orang
miskin di Indonesia sudah mengenal kredit mikro. Pada
periode awal berdirinya koperasi, misalnya, di berbagai
kelurahan di kota-kota Jawa Tengah didirikan koperasi simpan
pinjam (KSP) yang dikelola oleh perangkat kelurahan.
Pekalongan, yang dikenal sebagai kota industri batik,
memiliki koperasi simpan pinjam tingkat kelurahan yang "melegenda",
seperti Koperasi Desa Kauman dan Koperasi Rakyat Noyontaan.
Ibu-ibu jemaah pengajian
Aisyiyah di kampung-kampung secara sukarela mengumpulkan
modal sendiri untuk dipinjamkan kepada anggota, tanpa
jaminan dan bunga. Riwayat kredit mikro kita, yang pada
umumnya dipakai untuk kepentingan konsumtif, berakhir dengan
"wassalam"--menguap seperti asap. Bank-bank ataupun KSP,
yang sebenarnya juga menjalankan praktek perbankan, tak
memiliki keberanian menggugat--"jika Bangladesh bisa,
mengapa Indonesia tidak?"
Pada awalnya, kaum miskin di
Bangladesh tentu bukan masyarakat yang sadar bank. Untuk
sekadar menemui perempuan yang perlu diberi modal di
kampung-kampung, Yunus bahkan harus berdiri jauh di sudut
kampung dan minta bantuan seorang mahasiswi. Sebab, sebagian
perempuan di sana masih menggunakan cadar dan dilarang
bertemu dengan lelaki bukan muhrim.
Konsistensi keberanian Yunus mengatasi kemiskinan lewat
kredit mikro, seperti ditulis secara memikat oleh Robert M.Z.
Lawang dalam pengantar buku ini, membongkar sekian banyak
kepalsuan yang puluhan tahun tersembunyi di balik berbagai
institusi yang menjadi biang kemiskinan. Daeri pendidikan,
pemerintahan, negara, perbankan, kebudayaan, sampai tradisi
keagamaan.
E.H. KARTANEGARA
PRAKTISI MEDIA KOSPIN JASA |