|
Pemberdayaan Kaum Miskin
Suliyar
Seputar
Indonesia,
6 Mei 2007
MUHAMMAD Yunus lahir di
Chittagong pada 1940, sebagai anak ketiga dari empat belas
bersaudara. Dia ikut mengalami pemisahan Pakistan dari India
pada masa kecil dan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan
Bangladesh dari Pakistan setelah dewasa.
Menempuh pendidikan formal di
Chittagong Collegiate School, kemudian memperoleh beasiswa
Fulbright untuk program Ph.D di Vanderbilt University pada
tahun 1969.Setelah selesai merampungkan studinya,dia bekerja
sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Chittagong University.
Ketika itu,penduduk Bangladesh
sedang mengalami bencana kemiskinan dan kelaparan yang
sangat mengkhawatirkan. Yunus sangat terkejut ketika melihat
realitas kemiskinan yang sedang menimpa masyarakat di
sekitar kampusnya sendiri.” Ketika banyak orang sedang
sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang
mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan,”katanya.
Sejak itu, Yunus merasa
tertantang untuk mengembangkan skema kredit mikro sebagai
upaya melawan kemiskinan yang sedang merajalela di
tengah-tengah masyarakat. Langkah awal yang ia lakukan
adalah memberikan pinjaman uang kepada masyarakat miskin di
pedesaan, yang selama ini tidak bisa mengembangkan usahanya
karena tidak bisa mendapatkan akses pinjaman uang dari bank.
Dalam Bank Kaum Miskin
ini, Yunus menuturkan perjalanannya selama memerangi
kemiskinan yang diderita penduduk Bangladesh. Ketika
pemerintah merasa kewalahan dihadapkan dengan kemiskinan dan
kelaparan, Yunus dengan penuh keyakinan berusaha mencurahkan
perhatiannya memerangi kemiskinan itu.”Saya selalu meyakini
bahwa menghapuskan kemiskinan dari muka bumi ini adalah
persoalan niat.” (hlm.237) Dia tidak mengumbar janjijanji
palsu yang tak ada realisasinya.
Tanpa kenal lelah dia menyisirke
desa-desauntukmendata jumlah masyarakat miskin dan kemudian
memberikan pinjaman uang sebagai modal untuk memulai usaha.
Program ini terbukti sangat efektif dan mampu menurunkan
angka kemiskinan yang pada waktu itu sudah begitu parah di
Bangladesh. Pada tahun 1976,Yunus menyempurnakan lembaga
kreditnya menjadi sebuah bank formal bernama Grameen Bank,
yang dalam bahasa Bengali artinya Bank Desa.
Bank ini berkembang dengan
sangat pesat.Sedangkan modal operasionalnya 75% dimiliki
nasabah dan sisanya dimiliki pemerintah. Grameen Bank
sekarang bahkan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dolar
AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi
nasabahnya. Hebatnya lagi, Grameen Bank telah memiliki
perwakilan di seluruh Bangladesh,dan 97% dari enam juta
krediturnya adalah para perempuan miskin.
Adapun sebagai penjamin
pembayaran kredit, Grameen Bank menggunakan sistem yang
dinamakan grup solidaritas. Grup ini terdiri dari kelompok
kecil yang bersama-sama mengajukan pinjaman, di dalamnya
terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran.
Sistem ini mirip dengan penerapan sistem dana bergulir, di
mana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan
pinjaman, maka dana itu akan digunakan oleh anggota lainnya.
Dan, beberapa tahun terakhir Grameen Bank telah memperluas
cakupan pemberian kreditnya dengan memberikan kredit
pinjaman rumah (KPR) dan proyek irigasi.
Program ‘bank pemberdayaan kaum
miskin’ seperti yang dicontohkan Muhammad Yunus sekarang
telah diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat
miskin di berbagai belahan dunia. Dan lebih dari 17 juta
orang miskin di seluruh dunia sudah merasakan manfaat
langsung dari program ini. Puncaknya, pada tahun 2006 lalu
Muhammad Yunus dan Grameen Bank dianugerahi Nobel Perdamaian
oleh Komite Nobel Norwegia. Ini adalah kemenangan terbesar
bagi Yunus dan kaum miskin Bangladesh atas pengorbanan
mereka mengembangkan Grameen Bank.
Kemenangan dalam memerangi
kemiskinan merupakan langkah penting dalam upaya menciptakan
perdamaian. Penyebab munculnya aneka konflik di tengah
masyarakat sering kali dikarenakan oleh persoalan kemiskinan
dan ketimpangan ekonomi dalam masyarakat. Persoalan
kemiskinan bisa dijadikan senjata untuk sebuah propaganda
politik dan memecah belah masyarakat. Hal semacam inilah
yang seharusnya perlu terus diwaspadai. Sangat disayangkan
jika kemiskinan dan kesenjangan ekonomi justru dimanfaatkan
untuk kepentingan politik dan keuntungan bagi segelintir
orang atau kelompok tertentu.
Dengan terbukanya kesempatan
memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian bagi pembela kaum miskin
seperti Muhammad Yunus,diharapkan dapat menyadarkan elite
politik dan pemegang kekuasaan di negara kita untuk lebih
serius memperhatikan kepentingan rakyat.Masih banyak
penduduk miskin di Indonesia yang perlu mendapat perhatian
serius. Kita butuh orang-orang seperti Muhammad Yunus yang
langsung memberikan sumbangan nyata kepada penduduk miskin,
bukan janji-janji palsu yang tak ada realisasinya sama
sekali.
SULIYAR
MAHASISWA FAKULTAS TARBIYAH UIN
SUNAN KALIJAGA, YOGYAKARTA |