|
Melihat Kemiskinan dengan Mata Cacing
Sunaryo
Adhiatmoko
Republika,
4 Mei 2007
Universitas-universitas yang ada sekarang menciptakan
kesenjangan hebat antara mahasiswanya dengan kenyataan hidup
sehari-hari. Demikian Muhammad Yunus melihat pendidikan dan
kemiskinan.
Entah apa yang ada di benak Cristiano Ronaldo mendengar
cacian Jose Mourinho, Manajer Chelsea yang mengungkit
tentang latar belakangnya. Hanya karena lahir dalam kubang
kemiskinan di Madeira, Portugal dari seorang ayah yang
bekerja sebagai buruh Ronaldo mendapatkan hinaan itu.
Mourinho menyebut pemain terbaik
dan pemain muda terbaik Inggris itu sebagai pembohong.
Mourinho berasumsi latar belakang keluarga dan asal usul
kelas keluarganya yang mempengaruhi itu. "Mungkin hal itu
karena masa kecilnya yang sulit, tidak berpendidikan," kata
Mourinho yang berpendidikan tinggi ini mengejek.
Kita tak hendak mengupas masalah
bola. Tetapi ungkapan Mourinho yang lahir dari kelas
menengah di Kota Setubal, Portugal ini menunjukkan
penyekatan kelas masih abadi di belahan bumi ini. Bahkan
terjadi dalam pentas sepak bola dunia yang berlangsung di
Inggris. Kelas buruh dan kelas miskin, sekalipun ia mampu
menatap dunia dengan prestasi, tetap saja masih dipandang
rendah oleh sebagian orang.
Pun, dalam masyarakat kita.
Prilaku aneh yang kadang tampak dalam keseharian orang
miskin kerap dikaitkan dengan rendahnya pendidikan. Seorang
pengemis, pemulung, perampok, buruh, dan kelas sosial rendah
lainnya tercipta karena ia berpendidikan rendah. Tetapi kita
tidak pernah mengupas kulit sebagian kalangan terdidik kita.
Adakah yang menyebut tingginya orang korup di Indonesia
disebabkan faktor pendidikan yang salah?
Bukankah mengemis pada negara
asing itu juga pengemis dalam skala besar yang hanya mampu
dilakukan orang-orang berpendidikan. Bukankah korupsi uang
rakyat itu juga perampok dan pencuri yang hanya mampu
dilakukan orang-orang dengan pendidikan tinggi. Perilaku
asusila di parlemen misalnya, apa bedanya dengan aktivitas
prostitusi di warung remang-remang. Itu juga dilakukan kelas
berpendidikan.
Wajar jika seorang copet
berinisial P yang berkeliaran di Pasar Senen berkelakar, "Gua
hanya lulus SMP makanya gua jadi pencopet. Kalau
gua sarjana, gua bisa jadi koruptor seperti
pejabat-pejabat di negeri ini. Beda nasib aja,
perilaku sih sama", sindirnya ringan.
Omongan pencopet ini bisa jadi
memerahkan telinga. Tetapi jika ego dikendurkan sedikit apa
yang dikatakannya ada benarnya. Semua bermuara pada
pendidikan yang diunggulkan menjadi tumpuan utama untuk
menjawab berbagai kekusutan hidup. Pendidikan adalah jalan
cerdas membasmi kemiskinan. Ironisnya pemiskinan terus
dilakukan orang-orang dengan latar belakang pendidikan
tinggi.
Jika demikian, ada landasan
fundamental yang nyaris tak diajarkan di bangku sekolah dan
kampus. Yakni nurani dan kemanusiaan. Generasi negeri ini
terus dipompa bagaimana mampu melompat dalam akal dan
budinya. Tetapi nurani dan kemanusiaannya tidak diasah.
Wajar jika perilaku kalangan berpendidikan tinggi kita di
pemerintahan misalnya, bekerja dengan nurani kering.
Kebijakannya selalu menindas dan tak berpihak pada rakyat
dan bangsanya.
Nasehat Muhammad Yunus
Aroma peringatan Hari Pendidikan Nasional baunya masih
menyengat. Banyak artikel dan dialog di media massa
menyoroti nasib pendidikan kita. Semua kritis dan sepakat
untuk memajukan pendidikan di tanah air. Tetapi belum ada
pendapat revolusioner sebagaimana yang dilontarkan Muhammad
Yunus, peraih nobel perdamaian dan pendiri Bank Kaum Miskin
(Grameen Bank).
"Saya bersumpah akan belajar
sebanyak mungkin tentang desa. Universitas-universitas yang
ada sekarang menciptakan kesenjangan hebat antara
mahasiswanya dengan kenyataan hidup sehari-hari di
Bangladesh. Alih-alih belajar dari buku seperti yang biasa
dilakukan, saya ingin mengajari mahasiswa saya cara memahami
kehiduan seorang miskin," kata Yunus dalam bukunya berjudul
Bank Kaum Miskin yang diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia oleh penerbit Marjin Kiri.
Bicara kemiskinan di kampung
Muhammad Yunus memang tak jauh beda dengan kemiskinan di
Indonesia. Sudah banyak profesor menelorkan pil ampuh untuk
menyembuhkan kemiskinan di Indonesia. Tetapi bukan sembuh,
kemiskinan makin parah. Mencermati ungkapan Yunus,
kelihatannya kaum cerdik pandai kita belum mencebur ke dalam
kubang kemiskinan sesungguhnya. Konsep yang ditawarkan baru
sebatas teori-teori ekonomi elegan yang oleh Yunus dianggap
sangat memuakkan.
Lebih tajam Yunus mengingatkan
kita semua tentang bagaimana menyelami pendidikan dan
kemiskinan. Kita sepertinya mesti sepakat bahwa yang
disampaikannya itu amat cocok untuk dunia pendidikan kita
hari ini. "Saat Anda menggenggam dunia di tangan Anda dan
mengamatinya dari atas laksana burung, Anda cenderung
menjadi arogan. Anda tidak menyadari bahwa segala sesuatunya
menjadi buram jika dipandang dari jarak yang sangat jauh.
Sebaliknya, saya memilih "pandangan mata cacing". Saya harap
bila saya mempelajari kemiskinan dari jarak dekat, saya akan
memahaminya dengan lebih tajam".
Di ranah kita sendiri, semua
fasilitas pendidikan, universitas-universitas berdiri megah
di tengah kampung-kampung, desa, dan komunitas miskin. Semua
masalah kemiskinan itu hadir nyata di depan mata saat kita
keluar dari bangku sekolah dan universitas. Tetapi kita tak
diajarkan mengurai yang di pelupuk mata itu. Melainkan kita
dicekoki teori-teori dengan nyaman di ruang kelas.
Wajar jika produk pendidikan
kita banyak melahirkan SDM dan pemimpin miskin nurani. Para
pemimpin korup juga dihasilkan oleh produk pendidikan sarat
teori-teori ini. Kegelisahan Yunus benar adanya. Persis
sebagaimana kita kini. Dari sekian banyak gagasan brilian
para pakar kita, belum ada yang mampu melahirkan gebrakan
memperbaiki kondisi kemiskinan.
Sudah saatnya kita melakukan
revolusi gaya belajar. Melihatlah dengan mata cacing
sebagaimana Yunus menatap kemiskinan. Kita mesti mengotori
seragam sekolah anak-anak dan mahasiswa kita dengan sampah
dan lumpur agar nuraninya hidup. Memahami kemiskinan dengan
mencicipi nasi aking dan melihat penderitaan dengan
mengunjungi rumah sakit. Dengan itu generasi kita akan paham
apa rasa kemiskinan, sebab, dan solusinya.
Semua itu amat mudah dilakukan,
karena warna kemiskinan menghiasi dapur dan halaman rumah
kita. Para cerdik pandai, pemimpin dan elit ini saatnya
membutakan mata burungnya dan mengganti menatap kemiskinan
negeri ini dengan mata cacing. Sangat sederhana dilakukan,
jika kita ikhlas menanggalkan gengsi dan belajar
menghidupkan nurani dan empati.
|