|
Tidak Makan Bunga Bank dari Muhammad Yunus
Mukhijab
Pikiran
Rakyat, 18 Mei 2007
RIBUAN orang
berduit yang menjadi investor tertipu oleh bisnis
permainan uang (money game) yang menjanjikan
bunga tinggi atau yield, return. Yang paling
anyar kasus penipuan oleh PT Wahana Bersama Globalindo,
sebuah agen pemasaran produk Dressel Investment Limited
(DIL) British Virginia Island, Amerika Selatan.
WBG/DIL menawarkan produk
Strategic Portfolio Management Scheme (Sportmans) dan Global
Markets Portfolio (GMP) dengan yield 24% - 28% per
tahun dan investasi minimum 5.000 dolar AS dan 10.000 dolar
AS. Tawaran yang sangat menggiurkan. Dalam waktu kurang 10
tahun, uang investor terkumpul Rp 3,5 triliun. Fantastis ya?
Sepertinya kita tidak belajar
dari kasus sebelumnya selama 2006-2007. Sebut saja dua kasus
besar dengan modus investasi juga yakni PT Interbanking
Bisnis Terencana (Ibist) Bandung yang menilep Rp 224,57
miliar dari 5.024 nasabah dan PT Sarana Perdana Indoglobal (SPIG)
Jakarta yang menggelapkan Rp 2 triliun dari ribuan
nasabahnya.
George Soros/Quantum Fund saja,
konon tidak pernah mengeluarkan return besar kendati
dalam setahun mereka rata-rata menghasilkan yield
34%.
Penulis tidak memiliki
kompetensi menganalisis fenomena money game di atas.
Yang ingin ditampilkan berikut menyangkut pelajaran
bagaimana memutar uang dalam jumlah besar dan hasilnya
membawa maslahat bagi khalayak terutama orang kecil. Dalam
kasus ini, pelajaran yang sangat berharga ditunjukkan oleh
Muhammad Yunus, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 2006.
Mengangkat derajat
Muhammad Yunus dilahirkan di
Chittagong 1940 Bangladesh. Pascalulus di Vanderbilt
University, Amerika, menjadi Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Chittagong pada 1972. Usahanya menolong rakyat
miskin dimulai dengan melakukan riset kehidupan perempuan di
berbagai desa, dilanjutkan dengan meminjamkan modal kepada
mereka pada 1976. "Desember 1976, saya memperoleh pinjaman
dari Janata Bank (300 dolar AS) dan meminjamkan kepada kaum
miskin Jobra. Kebutuhan 42 orang sebesar 27 dolar AS atau
856 taka (mata uang Bangladesh). Saya tidak bermaksud
menjadi rentenir. Saya tidak berniat meminjamkan uang pada
siapa pun. Yang saya inginkan sesungguhnya adalah mengatasi
masalah mendesak," kata dia sebagaimana diuraikan dalam
Bank Kaum Miskin (Vers un monde sans pauvrete),
Marjin Kiri, April 2007.
"Yang mengejutkan saya adalah
pembayaran kembali pinjaman oleh para peminjam tanpa agunan
ini terbukti jauh lebih baik ketimbang mereka yang
pinjamannya dijamin oleh aset. Lebih dari 98 persen pinjaman
dilunasi." Ini mendorong dia mendirikan Grameen Bank (GB) di
Distrik Tangail pada 6 Juni 1979 terdiri dari 19 cabang di
Tangail, 6 cabang di Chittagong, 1 cabang Bank Pertanian di
Jobra atau total 25 cabang bank. Semula kepemilikan GB 75
persen peminjam, 25 persen pemerintah, Sonali Bank milik
pemerintah, Bangladesh Krishi Bank. Kini, 93% kepemilikan
peminjam, 7% pemerintah.
Pada 1982, anggota GB mencapai
28.000, mayoritas anggotanya perempuan. Saat dirintis di
Jobra pada 1979, anggotanya baru 500 orang. Kini anggota GB
terus bertambah. Begitu juga pegawainya. Prinsip bank ini,
return atau bunga pinjaman dari nasabah kembali ke
nasabah.
"Banyak cendekiawan Islam
memberi tahu kami bahwa larangan syariah memberlakukan bunga
bank tidak berlaku bagi GB karena peminjam juga pemilik GB.
Tujuan perintah agama melarang bunga untuk melindungi kau
miskin dari riba, tetapi ketika kaum miskin memiliki sendiri
banknya, bunga dibayar ke perusahaan pemiliknya sendiri, dan
artinya untuk mereka sendiri."
Awalnya, GB memfokuskan kredit
mikro. Kucuran kredit per kelompok debitur minimum lima
orang (1 ketua). Anggota kelompok yang semuanya perempuan
perajin, meminjam secara bergiliran. Pada 1981, Bank Sentral
menyoal pola ini, alasannya keberhasilan bank dalam merekrut
nasabah dan tingkat pengembalian pinjaman yang hampir
mencapai 100 persen, didasari kepatuhan para debitur dan
staf kepada sang pendiri bank. Bank sentral memvonis,
Grameen bukan bank. Alasan lain, staf bank tidak di kantor,
melainkan keliling desa menuju rumah nasabah, dianggap tidak
lazim.
Sikap Bank Sentral Bangladesh
tidak menyurutkan laju pendiri GB. Kerja kerasnya justru
memperoleh apresiasi dari Ford Fondation, organisasi
internasional yang tengah bekerja sama dengan Chittagong
University. Atas rekomendasi organisasi ini, manajer South
Shore Bank di Chicago menilai kredibilitas GB meyakinkan dan
bisa mengucurkan dana penjaminan 800.000 dolar AS. Dana ini
hanya diparkir di Bank London untuk menunjukkan kepada Bank
Sentral Bangladesh dan bank komersial lain bahwa ada dana
talangan yang siap menutup bila GB mengalami paceklik.
Dampaknya, pinjaman pun mengucur deras.
GB pada 1981 bisa mengucurkan
pinjaman 13,4 juta dolar AS. Tahun berikutnya, pinjaman naik
senilai 10,5 juta dolar AS. Semua pinjaman itu tanpa jaminan.
Merambah ke Arkansas
Sukses program kredit mikro, GB
merambah KPR (kredit kepemilikan rumah). Lebih dari 560 ribu
rumah dibangun, seharga 300 dolar AS/rumah, pembayaran
dengan cicilan/minggu, tingkat pengembaliannya 100%. Program
ini mendapat penghargaan Aga Khan Award pada 1989. Cara
cicilan KPR unik. Apabila ada daerah kediaman nasabah
terkena banjir atau krisis pangan, GB justru mengucurkan
pinjaman baru yang dikonversikan dengan pinjaman sebelumnya,
dengan masa pengembalian lebih lama. Bahkan, GB mencairkan
asuransi jiwa yang ditanggung Central Emergency Fund bila
peminjam meninggal. Anggota keluarga korban yang menerima
santunan dimasukkan sebagai anggota kelompok, sebagai
pengganti yang meninggal.
Kredit mikro sistem GB menjalar
ke Arkansas pada saat Bill Clinton menjadi Gubernur
Arkansas. Muhammad Yunus dipanggil dan akhirnya di sana
berdiri Good Faith Fund. Di Dakota Selatan dikelola Lakota
Fund, di distrik Cherokee AS, Projek Usaha Mandiri Perempuan
(WSEP) di antaranya program Full Circle Fund (FCF) Chicago.
Di Polandia, eksekutif JP Morgan Invesment Bank bersedia
berhenti karena dia mendirikan Grameen Bank di sana, Fundusz
Mikro.
GB sempat terpukul oleh
kebijakan pemerintah Bangladesh pada 1991. Pemerintah baru
menghapus utang di bawah 125 dolar AS atau 5000 taka. Yang
beruntung adalah orang-orang kaya dan pemilik tanah di
Bangladesh. Nasabah GB yang miskin berpikir, hutang mereka
telah dihapus pula meskipun para peminjam akhirnya sepakat
tetap melunasinya. Kemudian GB diuji oleh bencana badai
siklon di Bangladesh pada 30 April 1991 yang menewaskan 110
ribu orang,yang sebagian besar adalah nasabah KPR. GB
menambah kredit bank untuk keluarga korban untuk
rehabilitasi rumah mereka.
Saat ini, GB menyalurkan tiga
jenis kredit; kredit mata pencaharian/kredit komersial (bunga
20%), kredit perumahan (bunga 8%), kredit pendidikan tinggi
anak keluarga Grameen (bunga 5%). Bunganya sistem tunggal,
dikalkulasi secara declining balance. Seorang
meminjam Rp 1000,00 dalam waktu setahun akan mengembalikan
Rp 1.100,00.
Para peminjam GB sebanyak 2,6
juta orang (95% perempuan) mengusai modal (ekuitas bank)
93%, sebanyak 7% sisanya dikuasai pemerintah Bangladesh.
Banknya terdiri dari 1.181 cabang di 42.127 desa, digarap
oleh 11.777 staf. Pinjaman yang disalurkan 174,78 miliar
taka atau 3,9 miliar dolar AS. Dari jumlah ini, 161,33
miliar taka atau 3,6 miliar dolar AS (98%) telah
dikembalikan. Semua operasional bank dibiayai 90% dari total
pinjaman berjalan dan tabungan deposan 82%.
Kini, GB bermetamorfosa
sistemnya dari Grameen Classic System/GCS ke Grameen
Generalised System (GGS) atau GB II. Sistem baru
memungkinkan orang miskin meminjam uang dengan mengatur
sendiri jangka waktu pinjaman. Bagi peminjam di atas 8.000
taka (138 dolar AS) harus menyisihkan minimum 50 taka (0,86
dolar AS) per bulan sebagai tabungan pensiun. Sesudah 10
tahun, peminjam akan menerima dana jaminan pensiun hampir
dua kali lipat dari jumlah tabungan selama 120 bulan.
Adakah para pemilik modal
terketuk dengan contoh yang diterapkan Muhammad Yunus? Atau
tetap lebih tertarik menanam uang dalam money game
dengan bunga selangit?
MUKHIJAB
PENULIS, WARTAWAN PIKIRAN
RAKYAT YANG BERTUGAS DI JAKARTA
|