| |
Mencari Yunus-Yunus Baru
Bersihar
Lubis
Medan Bisnis
Online,
2 Juli 2007
Hati Muhammad Yunus, Dekan
Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh itu
pedih. Di pelupuk matanya, ia saksikan bencana kelaparan
yang mendera kaum miskin. Orang-orang lapar, tua-muda,
perempuan lelaki yang bergelimpangan di jalanan, sukar
menandainya, entah masih hidup atau sudah mati. Persis sajak
WS Rendra tentang kaum yang tidak beruntung itu.
Tapi seperti dituturkan oleh peraih Nobel Perdamaian di
Oslo, Norwegia, Desember 2006 itu dalam buku Bank Kaum
Miskin yang ditulis oleh dirinya bersama Allan Jolis, kaum
du’afa tak bisa meneriakkan slogan dan petisi apapun
terhadap orang-orang kaya yang hidup enak di perkotaan.
Mendadak sontak, Yunus muak
kepada dirinya. Sebal kepada kuliah dan teori ekonomi yang
tak kuasa menjawab nasalah kemiskinan warganya. Kuliahnya di
Chittagong dirasakannya bagaikan film Amerika yang
melukiskan seorang hero (kayak Rambo, Sylvester Stallon)
yang selalu menang secara fantastis, tapi tak bisa memberi
inspirasi dan solusi bagi orang puak miskin di Dunia Ketiga,
seperti Bangladesh.
Kita terperanjat ketika
diceritakan betapa Yunus memutuskan berhenti sebagai dekan,
dan memilih belajar kepada orang-orang miskin di Jobra,
sebuah desa miskin. Ia menyamar seraya mengenali persoalan
orang miskin langsung dari sumber pertama. Tak seperti kita
di sini, yang asyik seminar tentang pengentasan nasib kaum
miskin di hotel berbintang yang mewah. Pernah seorang
pembicara dalam panel diskusi tentang orang miskin, saat
ditanyai ternyata tidak tahu berapa ongkos naik bus kota
dari Depok ke Blok M Jakarta. Ia tak kenali objek panel
diskusinya.
Suatu hari Yunus berang besar
kepada seorang manajer bank yang meminta agunan kepada
seorang miskin yang memohon kredit. Bagaimana, ada? Ia
bekerja nyaris lebih 12 jam sehari. Menurut Yunus, si miskin
itu punya agunan yang sangat kuat, yakni nyawanya, karena
jika ia diberi kredit pasti berjuang mengembalikannya agar
bisa hidup terus. Si miskin itu tak memohon kredit yang
penggunaannya menyimpang, atau untuk hidup mewah dan apalagi
menambah jumlah istri.
Dari situlah, kemudian Yunus
mendirikan lembaga finansial bagi kaum miskin dan belakangan
beralih menjadi Grameen Bank dengan modal awal hanya US$ 27.
Sejak itu, orang miskin bertelanjang kaki pun masuk ke bank.
Mereka berutang, memutarkan uang, bisa hidup dan membayarnya
kembali ke bank. Belakangan, 93% dari pesaham bank itu
adalah mantan orang miskin yang dibela oleh Yunus.
Di sini, dulu kita pernah mendengar BRI yang memberi kredit
kepada orang miskin.
Ada yang berhasil, ada pula yang
puso karena sawahnya digasak oleh hama wereng. Termasuk
kepada nelayan. Sayangnya, kala itu beraroma kepentingan
politik. Kredit diberikan dengan maksud agar mereka memilih
Golkar dalam pemilu. Kini, bank semakin akuntabel dan
transparan. Memberi kredit harus hati-hati, sebab bisa-bisa
dituduh merugikan keuangan Negara, dan bisa dijerat sebagai
pelaku korupsi. Karena itu, agunan menjadi penting.
Who needs Who?
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Kartika
Wirjoatmodjo, Senior Vice President Group Head Strategy and
Performance Group Bank Mandiri. Ada beberapa hal yang
menarik. Salah satunya, adalah bagaimana mereka melayani
kredit KPR atau kartu kredit. Katanya, Mandiri mengandalkan
pola scoring system sehingga dalam tempo sepuluh menit bisa
memberikan jawaban, disetujui atau tidak. Toh, tetap
diperlukan verifikasi dengan memeriksa tempat tinggalnya,
penghasilan serta kondisi dokumen lainnya. Bila tidak
menemui masalah, tempo seminggu kredit dicairkan.
Tapi berdasarkan pengalaman 2005
lalu, diperoleh pelajaran bahwa dengan menggunakan type
orang-orang birokrat ke kredit mikro, ternyata tidak begitu
sukses. Kunci sukses skala mikro rupanya tergantung pada
orang yang bertugas di lapangan. Kartika pun bererita
tentang pola yang dilakukan oleh Grameen Bank, yang
menempatkan orang-orang yang mengenal lingkungannya,
sehingga dengan mudah mengetahui karakter nasabah. Itulah
yang kini diadopsi oleh Mandiri. Grameen bahkan tidak perlu
lagi meneliti pendapatan dan jenis usahanya, karena sudah
ada dalam file bank. Mandiri mencoba ke arah itu.
Masa lalu Bank Mandiri yang
merupakan gabungan empat bank pemerintah yang kental dengan
aroma birokrasi, memang bukan orang-orang pasar. Jadi mereka
harus terus mencari dan membina manajemen agar menjadi
orang-orang pasar dengan pola pikir entrepreneur.
Ikhtiar itu juga dilakukan oleh jajaran direksi. Dirut Bank
Mandiri, Agus Martowardoyo secara periodik juga wajib
berkunjung ke wilayah di seluruh Indonesia, minimal tiga
kali setahun. Saat itu, dilakukan kegiatan gathering
dengan bertemu dengan pengusaha daerah, Agus harus turun ke
pasar untuk memperluas pasar.
Sebagai ilustrasi, dalam sebuah
gathering jika di tangan seorang nasabah belum ada secangkir
minuman, maka karyawan Mandiri, tidak terkecuali jajaran
direksi harus melayaninya. Pelayanan di bank pun terus
dipantau, baik secara system manajemen, training, bahkan
dengan survei secara mistery shopper, dengan menggunakan
orang berperan sebagai nasabah berbekal kamera tersembunyi.
Jika karyawan bagus dalam pelayanan diberikan penghargaan
tetapi bila tidak akan terkena sanksi.
Bank Mandiri berkehendak
mengakhiri salah kaprah bahwa bukan nasabah yang membutuhkan
bank, melainkan merekalah yang membutuh masabah. Bank
membutuhkan pertumbuhan dan margin dari banyaknya kredit itu.
Pemohon kredit adalah pemberi bisnis kepada bank. Terbukti
banyak sekali bank yang bersedia memberikan kredit dengan
bunga bersaing dan persyaratan yang mudah.
Bolehlah dipujikan. Tapi tahap selanjutnya, Mandiri dan
semua bank di negeri ini mestilah berani memberi kredit
tanpa agunan. Jika petugas bank sudah mengenali orang-orang
yng butuh kredit, termasuk sektor usaha kecil, yakni yang
serius mempertaruhkan nyawa, dan masa depannya, dalam
istilah Yunus, sebetulnya agunan berupa tanah, rumah dan
sebagainya menjadi tidak penting. Jika Bangladesh mampu,
mengapa kita tidak?
BERSIHAR LUBIS
WARTAWAN SENIOR, TINGGAL DI
JAKARTA |