|
Bergulir Tanpa Mengejar Laba
Algooth
Putranto
Bisnis
Indonesia, 27 April 2007
Hampir setahun saya menunggu
buku ini, sejak editor buku ini, Ronny mengungkapkan Marjin
Kiri sedang menerjemahkan karya pemenang Nobel Perdamaian
2006 yang naskahnya ditulis dalam bahasa Prancis.
Tapi jika diurut lebih ke
belakang, sudah 10 tahun saya menunggu agar dapat menikmati
secara langsung isi buku berjudul asli Vers un Monde Sans
Pauvrete ini.
Sebelumnya, kegilaan pria
Bangladesh ini saya anggap sekadar dongeng para pendeta
Gereja Katolik tiap kali mereka melakukan penyuluhan tentang
kredit mikro credit union (CU) yang dirintis misionaris
Indonesia sejak akhir 1970-an.
Meski terasa terlambat jika
dilihat dari waktu penerimaan Nobel, sesungguhnya peluncuran
buku ini mencuri waktu dengan tepat.
Pertama, saat ini mayoritas
perbankan kita lebih mirip rentenir karena lebih suka
mencari laba dengan menyimpan likuiditas mereka dalam
instrumen Sertifikat Bank Indonesia daripada menyalurkannya
ke masyarakat.
Kedua, perbankan Indonesia
pantas bangga dengan dipilihnya BRI oleh PBB sebagai
laboratorium dunia untuk kredit mikro.
Namun jangan salah, buku setebal
269 halaman ini jauh jika disebut sebagai buku serius yang
melulu bicara tentang sistem Grameen Bank. Justru di dua bab
pertama Anda akan menemukan sosok Yunus yang puritan
sekaligus ndeso.
Sepintas isinya remeh tapi
justru dari kedua bab ini Anda akan mengerti proses
dialektika dan transformasi Yunus yang kampungan --tapi
sukses menggaet perempuan keturunan Rusia--menjadi sosok
canggih sekaligus militan.
Bab selanjutnya Anda akan
menemukan pola pikir Yunus yang praktis sekaligus modern
untuk mengatasi kemiskinan di sekitarnya. Meski untuk itu
dia harus melawan sistem perbankan konvensional dalam hal
penyaluran kredit.
Simak saat Yunus bergerilya
mencari pinjaman di Janata Bank. Perbincangannya dengan
beberapa individu disajikan lincah mengalir oleh Alan Jolis.
Saat membacanya, seolah-olah sosok Anda sedang menyaksikan
kehidupan tokoh yang begitu menarik.
Perjuangan awalnya mencari
pinjaman hingga kemudian berinisiatif membuat sistem Grameen
Bank disajikan bernas. Ada kesedihan, namun tidak cengeng.
Pada beberapa titik malah inspiratif dan membangun sikap
optimistis.
Simak perjuangan
perempuan-perempuan miskin Bangladesh yang berjuang agar
bisa menjadi anggota bank, memperoleh pinjaman, memutarnya
lalu mengembalikannya yang tanpa terasa telah mengangkat
harkat hidup mereka sendiri.
Uniknya, meski seorang muslim
dan memprakarsai Grameen, Yunus justru tak bermain di ranah
bank syariah. Dia konsisten dengan ilmu ekonomi barat yang
didapatnya di tanah Amerika.
Menarik saat menyimak beragam
taktik yang dia terapkan, mulai dari menugasi seorang
mahasiswi yang harus bolak-balik sebagai perantara
percakapan Yunus dan calon kreditornya.
Hingga saat 25 perempuan yang
jadi bahan tertawaan seisi kampung karena dinding tempat
mereka berebut mengintip dan menguping tiba-tiba roboh tak
kuat menahan berat badan mereka.
Beberapa orang buyar berbalik
badan, yang lain ramai cekikikan, sementara sisanya malah
langsung mendatangi Yunus dengan antusias membicarakan
peluang meminjam uang yang jumlahnya hanya jadi impian
mereka.
Meski sulit bahkan dituding
praktek Kristenisasi, Grameen berbiak luar biasa. Pada 1972,
anggotanya cuma 500 orang, namun pada November 1982 sudah
menjadi 28.000 orang.
Jumlah ini terus menanjak sampai
tahun 2006, anggotanya sudah berjumlah tujuh juta orang (97%
perempuan). Total kredit yang disalurkan US$6 miliar dengan
tingkat pengembalian rata-rata 99%.
Deposito dan dana milik Grameen
berjumlah 134% dari seluruh pinjaman berjalan. Kini bank
yang diawali dengan adu mulut itu telah merambah ke berbagai
bisnis lain seperti telekomunikasi dan penyediaan pangan
bagi anak-anak. Sebuah buku yang inspiratif! (algooth.putranto@bisnis.co.id)
|