| |
Amerika dan Kebijakan
Ekonomi
yang
Hipokrit
Nunik
Nurjanah
Koran Tempo,
Minggu, 14 Mei 2006
Kebijakan liberalisasi pasar
yang menjadi konsekuensi sistem globalisasi berdampak buruk,
khususnya di negara-negara miskin dan berkembang.
Kebijakan liberalisasi pasar yang menjadi konsekuensi sistem
globalisasi berdampak buruk, khususnya di negara-negara
miskin dan berkembang. Krisis keuangan yang melanda hampir
separuh dunia pada 1990-an menjadi awal petaka yang
ditimbulkannya. Tanpa kontrol pemerintah sama sekali, pasar
jelas tidak bisa bekerja sendiri.
Demikian pokok gagasan Joseph E. Stiglitz dalam bukunya yang
terbaru, Roaring Nineties, dengan edisi terjemahan
bahasa Indonesia berjudul Dekade Keserakahan: Era 90-an
dan Awal Petaka Ekonomi Dunia. Buku ini membongkar
borok-borok kebijakan ekonomi Amerika yang didesakkan ke
negara-negara berkembang dalam paket liberalisasi pasar
perdagangan. Borok tersebut tidak lain kemunafikan (hypocrisy)
Amerika dalam menerapkan kebijakan ekonomi global demi
memenuhi nafsu serakahnya.
Stiglitz adalah mantan kepala Bank Dunia kelahiran Gary,
Indiana, Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai ketua
Penasihat Dewan Ekonomi pada pemerintahan Clinton.
Kritikannya yang tajam dan pedas terhadap kebijakan IMF dan
konsensus Washington, bahkan terhadap pesohor Partai
Republik, George W. Bush, membuatnya dijuluki pahlawan
gerakan antiglobalisasi oleh majalah The Economist.
Itu pula yang akhirnya membuat ia harus hengkang dari Bank
Dunia. Namun, itu tidak menyurutkan langkah dan
popularitasnya. Ia kembali dan lebih bersinar lagi setelah
bukunya Globalization and Its Discontents terbit dan
menjadi polemik. Buku Roaring Nineties, seperti
diklaim oleh penulisnya, bisa dikatakan sebagai kelanjutan
dari buku ini.
Globalisasi selain memberikan pelbagai kemudahan, terutama
dalam hal transportasi dan komunikasi, membawa kehancuran
ekonomi yang tak terperi bagi negara-negara berkembang.
Indikasinya kemiskinan dan pengangguran yang meningkat. Aksi
terorisme yang belakangan merajalela di segala penjuru dunia
merupakan akumulasi kekesalan atas ketidakadilan global
tersebut.
Dalam pengantar edisi bahasa Indonesia, yang secara khusus
ditulis oleh Stiglitz, disebutkan bahwa korupsi dan kolusi
kelas teri begitu menjamur di negara-negara berkembang
akibat tingginya kesenjangan sosial di atas.
Sistem perdagangan bebas yang diadopsi ternyata tidak
membawa pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan negara-negara
berkembang, terutama kaum miskinnya. Sebaliknya,
negara-negara tersebut kian terpuruk selama dan pascaresesi
ekonomi yang terjadi pada 1990-an.
Ironisnya, Amerika dan para penganjur kebijakan konsensus
Washingtonlah yang memberikan resep-resep kebijakan
perekonomian yang menjerumuskan negara-negara berkembang.
Padahal mereka begitu sengit dan gencar memerangi korupsi
dan menganjurkan transparansi di sana. Apa yang dianjurkan
oleh Amerika, lebih tepatnya Departemen Keuangan Amerika
melalui IMF atau konsensus Washington, acap bertolak
belakang dengan yang mereka perjuangkan di dalam negeri
mereka sendiri. Tegasnya mereka menerapkan sistem kebijakan
ekonomi yang hipokrit.
Privatisasi Jaminan Sosial didesakkan Amerika di luar negeri,
padahal di dalam negeri upaya ini benar-benar ditentang. Di
dalam negeri, mereka berjuang menentang amandemen anggaran
berimbang karena ini dapat mengekang mereka dalam
memanfaatkan kebijakan fiskal ekspansif ketika terjadi
krisis ekonomi. Faktanya, di luar negeri mereka memaksakan
kebijakan pengetatan fiskal bagi negara-negara yang
mengalami krisis.
Di dalam negeri, mereka memperjuangkan Undang-Undang
Kepailitan untuk melindungi debitur dan memberi mereka modal
baru, sementara di luar negeri mereka menganggap kepailitan
sebagai pelanggaran kontrak kredit. Untuk menciptakan
lapangan kerja di dalam negeri, mereka habis-habisan menolak
pengubahan anggaran dasar Bank Sentral yang hanya akan
berfokus pada inflasi, tapi di luar negeri mereka menuntut
Bank Sentral tetap memberi perhatian ekstra pada inflasi,
bukan lapangan kerja. (halaman 242)
Meski mengakui pasar tidak mampu mengatasi masalah-masalah
ekonomi dan sosial dengan sendirinya, sehingga peran
pemerintah diperlukan meski terbatas, Amerika ngotot
mendiktekan pandangan fundamentalisme pasar ini ke
negara-negara lain. Strateginya dengan mendorong
minimalisasi peran pemerintah melalui privatisasi BUMN serta
penghapusan peraturan dan intervensi pemerintah dalam
perekonomian.
Stiglitz berpendapat terpuruknya perekonomian di
negara-negara berkembang tersebut, khususnya di Indonesia
yang tidak kunjung pulih hingga kini, akibat kepatuhan yang
tanpa reserve kepada kebijakan-kebijakan yang didesakkan IMF
dan konsensus Washington.
Resesi ekonomi pada 1997 disusul dengan kerusuhan Mei 1998
merupakan gejolak amarah masyarakat atas ketimpangan sosial
yang terjadi. Peristiwa terakhir mencuat tidak lama setelah
pemerintah--atas desakan IMF--mengeluarkan kebijakan
pemotongan subsidi pangan dan bahan bakar minyak bagi kaum
miskin.
Justru negara-negara yang membangkanglah yang jauh lebih
bisa bertahan dan cepat bangkit dari krisis. Cina, misalnya,
menerapkan kebijakan fiskal dan moneter ekspansif, sebuah
kebijakan yang bertentangan dengan yang dipaksakan IMF dan
Departemen Keuangan Amerika Serikat. Sementara itu, Malaysia
memberlakukan strategi pengawasan modal, yang jelas dikecam
keras oleh keduanya. (halaman 230)
Pendeknya, peristiwa ini menunjukkan intervensi dan regulasi
pemerintah terhadap pasar tetap harus dipertahankan. Pasar
tidak akan pernah bisa berjalan tanpa keterlibatan yang
proporsional dari pemerintah.
Melalui buku ini, Stiglitz menawarkan sebuah kerangka untuk
menemukan keseimbangan peran antara keduanya, sekaligus
menampik satu bentuk tunggal ekonomi pasar.
Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada 1990-an, yang
dikisahkan di sini secara dramatis, menjadi pelajaran
penting bagi siapa pun agar tetap waspada dan kritis
terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi global yang didiktekan
IMF dan Amerika Serikat.
Buku ini memberi informasi yang bisa dipertanggungjawabkan
karena ditulis oleh orang yang pernah berjibaku di dapur
perekonomian dunia. Dengan terjemahan yang cair dan tidak
kaku, buku ini menjadi enak dibaca dan mudah dipahami. Karya
ini juga melengkapi literatur buku antiglobalisasi yang
masih minim di Indonesia.
NUNIK NURJANAH
ALUMNUS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH, CIPUTAT, KINI BEKERJA SEBAGAI PERISET
PUSAT STUDI ISLAM DAN KENEGARAAN PARAMADINA JAKARTA
|