|
Masa Kegagalan Ekonomi AS
Munawar Kasan
Media
Indonesia, 29 April 2006
Borok-borok dan skandal
memalukan perekonomian Amerika Serikat (AS) dibongkar oleh
Joseph E. Stiglitz di dalam buku Dekade Keserakahan (Era
90-an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia). Sebagai
mantan Ketua Dewan Penasehat Ekonomi Presiden Bill Clinton,
Stiglitz tahu benar ‘dapur’ kebijakan ekonomi AS. Sistem
globalisasi yang dikumandangkan AS ke penjuru dunia justru
menjadi lokomotif awal mula petaka ekonomi dunia pada dekade
90-an.
Mismanajemen perekeonomian di AS
tak hanya berdampak buruk pada negeri Paman Sam itu sendiri.
Ada perumpamaan jika AS bersin, maka negara lain juga akan
terkena flu. Terpuruknya ekonomi AS merembet ke Asia
khususnya Korea, Indonesia, Thailand, dan Malaysia pada
tahun 1997, serta Rusia (1998), dan Brasil (1999).
Awal dekade 90-an ditandai
dengan euforia kemunculan ekonomi baru (new economy)
dengan lonjakan produktifitas dua atau tiga kali lipat.
Kehadiran perusahaan-perusahaan dot-com merevolusi cara AS
dalam berbisnis. Bahkan ekonomi baru disejajarkan dengan
Revolusi Industri dua abad sebelumnya yang menggeser basis
perekonomian dari pertanian ke manufaktur. Namun
kenyataannya, fenomena ini disusul oleh sebuah peluruhan (bust)
di akhir dekade.
Secara
simultan kehancuran ekonomi AS dipicu oleh lonjakan
pertumbuhan yang merupakan gelembung semu (bubble)
yang setiap saat bisa meletus. Benih-benih kemelut lainnya
adalah ketidakjujuran dan usaha memperkaya diri oleh
kalangan chief excecutive officer (CEO), skandal
akal-akalan akuntansi (audit), pengelolaan bank dan
moralitas bankir yang buruk, dan praktek-praktek usaha
lainnya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip good
corporate governance.
Kegagalan Globalisasi
Ideologi pasar bebas bermula
dari teori Adam Smith (1776) tentang invisible hand
yang akan menggerakkan pasar menuju efisiensi ekonomi.
Berdasarkan penelitiannya, Stiglitz berkesimpulan adanya
informasi asimetrik (sejumlah orang memiliki informasi yang
tidak dimiliki orang lain), yang membuat teori invisible
hand ini menjadi tak bekerja dalam pasar bebas dan
menjadi mitos.
AS yang menepuk diri sebagai
pelopor pasar bebas justru hipokrit. Perusahaan besar bahkan
cemas bersaing dan menjadi korporasi cengeng yang meminta
proteksi dan subsidi. Kebijakan global AS yang double
standard dikendalikan oleh kepentingan korporasi dan
dunia finansial yang mendominasi kehidupan politik AS (h
216). AS mendesak negara lain membuka pasar mereka untuk
produk-produk yang menjadi keunggulan AS, seperti jasa
keuangan. Tapi justru memproteksi sektor-sektor konstruksi,
maritim, dan pertanian yang menjadi kelebihan negara
berkembang.
Globalisasi yang dimotori AS
justru mempertontonkan ketidakadilan, ketidakjujuran, dan
penjajahan dalam bentuk baru. Perilaku ini bersimultan
dengan benih-benih kehancuran ekonomi seperti disinggung di
atas. Akhirnya, AS ‘mengekspor’ kemelut ekonomi dalam
negerinya dan perilaku liciknya ke dunia internasional.
Krisis yang terjadi di negara
kita juga akibat gelembung ekonomi (economic bubbles)
pada awal 90-an yang ditandai dengan derasnya aliran sumber
dana ke Indonesia, maraknya pasar saham, kredit perbankan
dan properti yang melonjak tajam (Cyrillus Harinowo, IMF:
Penanganan Krisis & Indonesia Pasca IMF, Gramedia, 2004).
Pecahnya gelembung, menurut
Cyrillus, ditandai dengan merosotnya kepercayaan pada bank,
harga saham anjlok dan larinya investor luar negeri, serta
hancurnya pasar properti. Indonesia akhirnya minta tolong
International Monetary Fund (IMF). Sejak 5 November
1997, mulailah Indonesia masuk dalam cengkeraman kuat AS
yang mendiktekan ketamakannya berupa penghapusan hambatan
dagang dan privatisasi.
Keseimbangan Peran Pasar
Francis Fukuyama, dalam bukunya
State-Building: Governance and World Order in the 21st
Century (2004) menyarankan agar negara mengambil peran
yang lebih besar dalam kehidupan politik dan ekonomi. Kaum
liberal pro-pasar yang menyodorkan pemangkasan peran
memerintah memang melihat hasilnya berupa pertumbuhan
ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan integrasi pasar. Namun
masalah baru muncul yang merupakan gejala kegagalan negara.
Sejalan dengan ide Fukuyama,
Stiglitz mendesak pemerintah lebih berperan untuk
menyeimbangkan pengaruh pasar guna mencapai pertumbuhan
berkesinambungan dan efisiensi dalam jangka panjang (hlm
308). Keseimbangan yang tepat berarti penguatan peran
pemerintah dalam bentuk mewujudkan keadilan sosial,
menegakkan kompetisi, peningkatan jaminan kesejahteraan
rakyat di bidang kesehatan, pensiun, serta pengangguran,
dll.
Buku yang berjudul asli The
Roaring Nineties: A New History of the World’s Most
Prosperous Decade ini tidak sekedar mengungkap borok
ekonomi AS tahun 90-an dan keserakahannya pada dunia, namun
juga perlunya meruntuhkan mitos-mitos perekonomian AS dan
dunia. Mantan kepala ekonom Bank Dunia ini mengajak untuk
mengambil pelajaran berharga dari kegagalan ekonomi era
90-an.
Pasca tumbangnya komunisme, tak
ada lagi pesaing kapitalisme. Negara-negara dunia ketiga
bisa berpikir ulang model perekonomian apa yang pas untuk
negaranya dalam rangka menciptakan keadilan dan
kesejahteraan. Apakah model kapitalis AS yang serakah atau
bentuk lainnya yang lebih manusiawi. Melalui buku ini,
siapapun akan bisa belajar banyak.
Dalam buku ini, peraih
Hadiah Nobel ekonomi tahun 2001 ini mengkritik tajam
korporasi AS yang selalu mendikte pemerintah untuk berlaku
tidak adil dalam globalisasi. AS terlalu memaksakan
keinginan korporasi itu kepada negara lain baik atas nama
globalisasi atau melalui lembaga boneka semacam IMF. Karena
kritiknya yang selalu pedas pada kebijakan IMF dan
Washington, dia dipaksa hengkang dari Bank Dunia.
Kekuatan
buku yang diberi pengantar khusus edisi Indonesia saat
Stiglitz berada di Bali akhir 2005 lalu adalah karena dia
pernah berada di lingkaran Gedung Putih dan berperan sentral
di Bank Dunia. Fakta-fakta yang disajikan berasal dari
sumbernya langsung.
MUNAWAR KASAN
KOORDINATOR INDONESIAN READERS
SOCIETY
|