|
Tamak yang Menghancurkan Ekonomi Dunia
Algooth
Putranto
Bisnis
Indonesia, Minggu, 2 April 2006
Buku yang baik adalah buku yang
mencerahkan. Karena itu diperlukan lingkungan yang kondusif
bagi proses dialektika yang terjadi. Contohnya Amerika
Serikat yang melahirkan banyak pemikir jempolan.
Beberapa pemikir memang acap
kali menyerang kebijakan AS. Sebut saja Noam Chomsky di
bidang perpolitikan, sementara di bidang ekonomi makro kita
pasti kenal mantan Kepala Ekonom Bank Dunia Joseph E.
Stiglitz.
Kalau Chomsky sering membuat
merah telinga pejabat-pejabat AS, sehingga membuat ketakutan
penerbit buku, maka Stiglitz acap kali membuat lembaga
internasional yang jadi kendaraan kapitalisme AS seperti IMF,
WTO dan Bank Dunia gregetan.
Hasilnya, muncul kecaman keras
dari Kepala Ekonom IMF Kenneth Rogoff pada Stiglitz saat
peluncuran buku Globalization and Its Discontents. "Resep
kebijakan Stiglitz justru memperburuk masalah suatu negara
dengan menggenjot inflasi," ujar Rogoff seperti dikutip
Washington Post.
Peraih Hadiah Nobel di bidang
ekonomi 2001 itu juga tak kurang lantangnya memaparkan
dosa-dosa lembaga multilateral Bank Dunia dan WTO yang juga
dinilai telah menyebabkan krisis ekonomi di berbagai belahan
dunia.
Buku yang dialihbahasakan oleh
Aan Suhaeni itu menegaskan pandangan Stiglitz tentang sebuah
bentuk hubungan ekonomi yang didasarkan kerja sama bilateral
dibanding kerja sama multilateral, kawasan atau antarkawasan.
Menurut profesor dari
Massachussette Institute of Technology itu, perdagangan
secara bilateral akan terjadi secara alamiah atas dasar
kebutuhan dan saling menguntungkan. Pendapat itu didasarkan
karena buku yang berjudul asli The Roaring Nineties,
Towards a New Paradigm in Monetary Economics itu
terinspirasi pada krisis ekonomi di Asia termasuk Indonesia.
Dengan data empiris, dia
mengungkapkan fakta permasalahan struktural di bidang
ekonomi makro yang telah menyebabkan kondisi usaha menjadi
serba tidak pasti. Kondisi ini telah menimbulkan masalah
baru atas munculnya disintermediasi pada industri perbankan
di sebagian besar negara Asia dalam skala berbeda-beda.
Paradigma baru
Hasilnya, muncul paradigma baru
tentang industri perbankan yang lebih senang bermain aman
dengan kecenderungan memutar kapital melalui selisih bunga
bank sentral ketimbang memperoleh margin melalui penyaluran
kredit.
Kondisi ini terjadi tidak hanya
di negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang, dan
Thailand, tetapi juga di Rusia, Brasil dan Argentina yang
juga terseok-seok menghadapi wabah krisis moneter.Kebijakan
IMF memperparah kondisi ini di mana dari sisi ekonomi
terjadi kemerosotan mata uang domestik, naiknya kapital
outflows, serta tingginya tingkat suku bunga dan likuidasi
bank.
Guru Besar Columbia University
New York itu berpendapat kebijakan IMF yang menuntut
negara-negara yang mengalami krisis untuk mengurangi defisit
anggaran dan menaikkan suku bunga justru mendorong resesi
dan memperbesar kemungkinan investor hengkang dari
negara-negara melarat tersebut.
Sudah menjadi konsensi umum
bahwa IMF hanya bersedia membantu ekonomi yang sedang
terpuruk bila mau menjalankan kebijakan ideologi
fundamentalisme pasar, yaitu bikin pasar modal serta buka
pintu selebar mungkin untuk lalu lintas barang, jasa, dan
modal.
Di sisi lain, peran pemerintah
dalam ekonomi diperkecil a.l. dengan swastanisasi perusahaan
negara. Indonesia pun kini mulai merasakan panyakit IMF.
Perlahan namun pasti AS dan Eropa pun mulai merasakan
kesulitan ekonomi. Resesi merambat naik, mata uang
internasional perlahan melemah, kesulitan likuiditas, dan
ujung-ujungnya perusahaan raksasa harus melakukan
perampingan. (algooth.putranto@bisnis.co.id)
|