|
Agar Dunia Tak Dilumuri Semangat Bermusuhan
Tantan
Hermansah
Koran Tempo,
29 April 2007
Mari kita berziarah kepada fakta
kekerasan kolektif di sekitar kita: di Poso, konflik terus
terjadi, bahkan makin tidak jelas siapa lawan siapa. Di
pulau Jawa, beberapa orang ditemukan tengah mempersiapkan
suatu "serangan" entah juga kepada siapa. Jauh sebelum kedua
kasus yang disebutkan, konflik antar kelompok "agama" di
Ambon berlangsung berbulan-bulan. Itulah antara lain
setumpuk kekerasan yang menggumpal dalam memori kesadaran
kita saat ini, yang kemudian menerbitkan pertanyaan: untuk
siapa kekerasan itu diarahkan?
Fenomena kekerasan yang muncul
di hadapan kita menyadarkan kita bahwa ada masalah besar
yang tengah menggayuti manusia-manusia Indonesia saat ini.
Dan jika kita memperhatikan tontonan di televisi misalnya,
fenomena kekerasan ini bisa dikatakan tidak dimonopoli oleh
kalangan atau aktor tertentu. Ia tidak hanya ada di di
kalangan bawah yang terimpit persoalan ekonomi saja, tapi
juga kelas menengah dan atas yang "mapan". Juga tidak hanya
terjadi pada kelas tidak terdidik (tapi juga melek
intelektual), atau orang dewasa (tapi juga anak-anak),
gender, atau jabatan dan jenis pekerjaan tertentu. Bahkan,
gejala kekerasan yang ditampilkan oleh invidu-individu pada
institusi penegak hukum juga bukan hal aneh lagi. Pokoknya,
fakta kekerasan dengan berbagai gradasi dan skalanya ada
pada semua pihak.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia kekerasan berarti "perbuatan seseorang atau
sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang
lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang lain".
Kekerasan juga bisa bermakna "paksaan".
Agak berbeda dengan pandangan
umum kita mengenai fakta kekerasan ini, Amartya Sen melihat
kekerasan dengan sudut pandang yang lebih jeli dan menukik.
Dalam bukunya Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas (Serpong:
Marjin Kiri, 2007), ia menyingkap berbagai realitas simbolik
dari setiap gejala kekerasan, selain mencoba mengurai akar
ideologis kekerasan itu sendiri. Di Indonesia Amartya Sen
lebih dulu dikenal sebagai seorang ekonom yang risetnya
tentang kemiskinan dan akses masyarakat terhadap hak-hak
dasarnya telah mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Ekonomi
1998. Namun di buku ini kita melihat sisi lain Sen sebagai
seorang pemikir sosial dan filsafat, yang tak beda dengan
pergulatannya di ilmu ekonomi, juga menghadirkan analisa
menggugah tentang situasi kontemporer dunia kita. Edisi
Inggris buku ini sebenarnya pernah diulas di Koran Tempo,
namun ada baiknya mengulas kembali edisi Indonesia yang
diterjemahkan dengan baik ini, yang penerbitannya punya
relevansi penting dengan kondisi kita sekarang.
Kritik atas tesis Huntington
Sen mengungkapkan bahwa semua fenomena kekerasan kolektif
itu sesungguhnya sangat tergantung kepada sistem pengetahuan
kita mengenai cara pandang terhadap kekerasan itu sendiri.
Selama beberapa tahun belakangan, terutama semenjak
peristiwa 11 September 2001, dunia intelektual di Indonesia
diharubiru dengan diskursus mengenai benturan antar
peradaban. Padahal, menurut Sen, setidaknya ada dua
kelemahan teori peradaban yang dicetuskan oleh Samuel
Huntington ini: Pertama, kelemahan paling mendasar
terletak pada digunakannya satu bentuk yang sangat ambisius
dari ilusi tentang ketunggalan. Ilusi ketunggalan ditarik
dari asumsi bahwa seseorang tidak mungkin dipahami sebagai
satu pribadi dengan banyak afiliasi, tidak pula sebagai
orang yang menjadi bagian dari berbagai kelompok yang
berbeda-beda, melainkan semata sebagai bagian dari
kolektivitas tertentu yang memberinya identitas unik dan
penting (h. 60). Kedua, pendekatan peradaban juga
cenderung mengabaikan kebhinekaan yang ada dalam tiap-tiap
peradaban yang dicontohkan (h. 61-62).
Kritik pedas yang dilancarkan
Sen sungguh tepat. Sebab, cara pandang yang dibangun oleh
Huntington cukup mengilhami dunia politik Barat dalam
memandang dunia Islam. Serangan sepihak AS ke Irak,
Afghanistan, dan bantuan militer kepada Israel merupakan
bukti konkret betapa Barat masih kental menganut cara
pandang yang diametral itu. Sen menegaskan perbedaan antara
"aneka afiliasi yang dimiliki seorang Muslim" dan "identitas
khususnya sebagai seorang Islam." Agama, menurutnya, "tidak
bisa dijadikan identitas mutlak yang melingkupi keseluruhan
identitas seseorang."
Kita bisa menangkap mengapa Sen
sedemikian jernih melihat persoalan kekerasan berbasis
identitas ini. Latar belakang sosiologis dan kulturalnya
sebagai seorang India membuatnya memiliki pengalaman riil
dalam kebhinekaan dan konflik dalam kebhinekaan itu. Dengan
jitu ia mengambil contoh India sendiri untuk merontokkan
tesis Huntington. India digolongkan sebagai "peradaban
Hindu" dalam pengkotak-kotakan peradaban ala Huntington,
padahal "India memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar
ketimbang negara mana pun di dunia kecuali Indonesia dan
berbeda tipis dengan Pakistan." (h. 62). Sen menegaskan
bahwa cara pandang Huntington ini memang banyak dipakai oleh
semua golongan yang menginginkan eksklusivitas dan
uniteralisme, misalnya kelompok ekstremis Hindu di India
dalam gerakan Hindutva.
Lebih dari itu, persepsi tentang
ketunggalan ini bukan hanya menghinggapi cara pandang "Barat"
terhadap "Islam", melainkan juga "Timur" terhadap "Barat",
bahkan "Barat" terhadap dirinya sendiri. Kemunculan
pemahaman dominan pada persepsi intelektual kita memang
tidak bisa dilepaskan dari klaim Barat tentang ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan. Padahal, fakta itu
tidak memiliki argumentasi empiris (h. 66). Demokrasi
misalnya. Klaim bahwa demokrasi itu produk Barat memiliki
kerancuan karena: Pertama, adanya klasifikasi
arbitrer yang mendefinisikan peradaban dalam kaidah-kaidah
yang umumnya rasial. Kedua, sejarah demokrasi bukan
satu-satunya milik Barat. Negara-negara timur juga sudah
lama mengadopsi nilai-nilai itu bahkan jauh sebelum negara
Barat. Ketiga, salah satu praktik demokrasi selain
masalah pemilihan umum, juga masalah musyawarah. Di
negara-negara Timur, praktik itu juga sudah dipraktikkan
lama (h. 69 -70).
Lebih jauh, pemilahan
berdasarkan peradaban memiliki banyak cacat, karena:
Pertama, pada masalah metodologis yang cukup mendasar
menyangkut asumsi implisit bahwa pemilahan berdasarkan
peradaban merupakan satu-satunya bentuk pengelompokan yang
relevan dan menenggelamkan cara lain dalam mengidentifikasi
manusia. Kedua, pendekatan ini terletak pada
penggambaran yang amat serampangan dan keawamannya mengenai
sejarah sehingga implikasinya menghasilkan pemahaman yang
sungguh dangkal (h. 75-76).
Akhirnya, Sen memberikan semacam
pernyataan yang jitu dalam menggambarkan analisisnya tentang
kekerasan itu. Menurutnya, kekerasan sektarian di seantero
dunia saat ini tidak kalah keji dan tidak pula kalah picik
dibanding 60 tahun silam.Yang melandasi brutalitas maha
kejam ini adalah kerancuan konseptual mendasar tentang
identitas manusia, yang mengubah manusia multidimensi
menjadi mahluk satu dimensi (h. 224). Pada bagian lain, ia
lebih menegaskan bahwa keahlian untuk mengobarkan kekerasan
tidak lain didayagunakan untuk meniadakan kebebasan berfikir
dan peluang untuk menalar (h. 226).
Maka menjadi semakin jelas bahwa
benang merah dari pesan-pesan semua tulisan Sen, termasuk
pada buku-buku lainnya, adalah memperjuangkan etik
pembebasan yang operasionalisasinya bisa diterjemahkan dalam
dunia yang multi dimensi. Itulah dunia yang menghargai
kebebasan sebagai anugerah terindah yang bisa dicecap
manusia untuk mengkonstruksi berbagai peradaban.
Dalam konteks Indonesia, Sen
seakan-akan memberikan cara pandang baru bagi kita dan juga
para pengambil kebijakan untuk lebih jernih melihat
persoalan kekerasan ini. Dalam beberapa kasus, kita harus
angkat topi kepada aparat yang mampu cukup obyektif melihat
fakta ini di lapangan. Misalnya, ketika seorang teroris
ditangkap tidak serta merta keluarganya (istri atau orang
tuanya) disamaratakan. Tapi hal ini tidak terjadi pada kasus
keluarga orang-orang yang dituduh terlibat PKI. Anak cucu
mereka yang tidak tahu apa-apa terus mengalami kekerasan
struktural berupa stigma dalam masyarakat, sekalipun sejarah
tentang kejadian ini masih diperdebatkan sampai sekarang.
Cara pandang buku ini penting
untuk dijalarkan agar dunia kita ke depan menjadi dunia yang
tidak lagi berhadap-hadapan dalam semangat permusuhan.
Semangat untuk saling memusuhi ini bagi Sen bukan
semata-mata ditimbulkan oleh niat jahat, namun lebih banyak
oleh kesalahan cara pandang. Karena itu, "kita harus
memastikan benak kita tidak terkurung oleh cakrawala pandang
kita sendiri." (h.238)
TANTAN HERMANSAH
STAF PENGAJAR UIN SYARIF
HIDAYATULLAH, CIPUTAT
|