|
Menggugat Identitas Tunggal
Windo Wibowo
Seputar
Indonesia,
15 April 2007
KITA, tak luput pula para
pemikir berkaliber sekalipun, sadar atau tidak,acap
terjerembap pada pengandaian yang ganjil.Yakni pemilahan
identitas yang sifatnya tunggal.
Ambillah tesis “benturan antar
peradaban” karya Samuel Huntington misalnya, membagi dunia
berdasarkan garis-garis peradaban, bahkan ditarik dari
pemilahan berdasarkan agama. Syahdan, Huntington abai
terhadap; pertama, tingkat keberagaman internal dalam
kategori- kategori peradaban itu sendiri; dan kedua,
jangkauan serta pengaruh interaksi baik secara intelektual,
pun material yang melintasi batasbatas regional dari apa
yang disebut sebagai peradaban itu sendiri.
Contoh pengabaian pertama yang
dilakukan Huntington, misalnya dengan menggambarkan India
sebagai peradaban Hindu.Uraian Huntington tentang “benturan
antar peradaban” melengahkan fakta bahwa India memiliki
jumlah penduduk muslim yang cukup besar ketimbang negara
lain, kecuali Indonesia, dan beda tipis dengan Pakistan.
Selain itu,musykil kiranya
memahami peradaban India kontemporer tanpa mengindahkan
peran besar kalangan Muslim dalam sejarah negeri Sungai
Gangga tersebut. Ditambah dengan fakta bukan Muslimlah
satu-satunya kelompok non-Hindu di antara penduduk India.Ada
Sikh dan Jain yang memiliki pengikut cukup besar. Bahkan
selama lebih dari seribu tahun agama dominan di India adalah
Buddhisme. Pengabaian kedua,misalnya apa yang disebut oleh
Huntington dengan peradaban Barat.
Huntington cenderung memandang
toleransi atau kebebasan misalnya,sebagai ciri khas yang tak
lekang dari peradaban Barat, merentang jauh ke belakang
dalam sejarah.Inilah yang dipandang sebagai salah satu item
penting dalam tabrakan nilai yang mendorong terjadinya apa
yang disebut sebagai clash of civilization. Di sini
Huntington alpa persinggungan dan interaksi baik secara
intelektual maupun material yang melintasi batas-batas
religional.
Pengandaian tentang identitas
tunggal, satu di antaranya kita temukan dalam ide dasar
sistem klasifikasi yang menjadi latar intelektual bagi
lahirnya tesis “benturan antar peradaban” tidaklah tepat dan
sarat kekeliruan. Gawatnya, kerangka yang membagi dunia atas
peradaban dan agama itu ternyata tidak hanya diidap kaum
yang perjaya atas tesis perbenturan itu—baik dari golongan
chauvinis Barat ataupun fundamentalis Islam—hingga
menjadikannya pleidoi,tapi juga kelompok- kelompok yang
dewasa ini puber dan gencar mempromosikan proyek dialog
peradaban.
Sederhananya, proyek dialog
peradaban itu pun memakai kerangka yang tak jauh berbeda,
bila tidak boleh dikatakan sama. Tujuan yang mulia dan
menggugah demi mewujudkan kerukunan antarmanusia, akhirnya
bisa dapat mengerdilkan manusia, akibat hubungan manusia
dengan sesama hanya dipahami dan dipangkas semata- mata
sebagai relasi/kerukunan antarperadaban. Padahal, senyatanya
memiliki multisisi dan relasi. Apa konsekuensinya dari hal
itu? Jawabannya, akhirnya manusia hanya dipotret sebagai
bagian suatu kelompok tertentu, misalnya bagian dari agama
atau peradaban tertentu, padahal secara serentak manusia
dapat saja bermajemuk identitas.
Beragama Islam, kelahiran India,
berkebangsaan Inggris, penentang neoliberalisme, penyuka
musik hip-hop dan percaya bahwa Tuhan menciptakan Darwin
untuk menguji manusia lemah iman, misalnya.Artinya,
identitas manusia tidak dapat diklasifikasi secara tunggal
dan serba mutlak begitu saja, melalaikan keberagamannya,
pendekatan yang soliteristik atas identitas manusia.
Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas (versi bahasa
Inggris; Identity and Violence: The Illusion of Destiny),
buku Amartya Sen, sekiranya dapat membantu kita bagaimana
identitas harus dipahami.
Di buku yang sama, profesor
ekonomi dan filsafat Universitas Harvard itu pula mencoba
mengulas tentang “culasnya” pemilahan yang bersifat sempit,
tunggal dan menafikan keberagaman atas identitas dalam diri
manusia. Sembari, melakukan retrospeksi dan analisa kritis
atas berbagai langgam teori sosial yang “mempergunjingkan”
mengenai masalah identitas. Ada tiga kritik minimal diajukan
dalam proposal pemikiran Sen dalam buku tersebut. Satu di
antaranya adalah pendirian teoretis benturan peradaban oleh
Samuel Huntington yang oleh Sen dianggap sebagai
reduksionisme dan dibangun dengan pengasumsian keterpisahan
identitas yang dominan dan kukuh.
Kedua, yang masih bertaut dengan
model Huntingtonian, kritik Sen menyangkut afiliasi
identitas tunggal. Menurut filsuf kelahiran India tersebut,
ilusi mengenai identitas tunggal jauh lebih memecah belah
dibanding beragamnya jenis klasifikasi yang mencirikan dunia
tempat tinggal kita. Kelemahan mencolok kategorisasi tunggal
yang tanpa pilihan ini sungguh sangat berdampak pada
melemahnya daya dan jangkauan nalar sosial-politik kita. Sen
menilai bahwa nilai kemanusiaan kita ditantang di kala
keragaman di antara kita dimampatkan ke dalam satu sistem
kategorisasi tunggal yang semena-mena (arbitrary).
Ketiga,kritik Sen atas
reduksionisme teori pilihan rasional (rational choice
theory) terutama yang dikembangkan disiplin ekonomi,
yang menganggap individu hanya memburu kepentingan diri
sendiri. Bagi Sen, dalam konteks inilah sangat penting
kiranya untuk mencoba memasukkan persepsi dan pemahaman
tentang identitas.Tentu saja harus diakui pula; penolakan
atas perbuatan yang semata-mata mementingkan diri sendiri,
tidak serta-merta menunjukkan bahwa perilaku seseorang
senantiasa dipengaruhi oleh rasa identitas.
Namun, baik dalam pilihan
reflektif dan seleksi bertahap gagasan mengenai identitas
yang tepat itu penting. Di sini tampak Sen hendak menampik
tentang pengabaian identitas dalam analisa ekonomi, yang
terwujud dalam perilaku menihilkan sama sekali pengaruh rasa
berbagi identitas apapun dengan orang lain, menihilkan apa
yang kita nilai penting dan cara kita bertingkah laku (hal
27). Akhirnya buku ini menjadi penting, menarik dan
mengundang perenungan, karena Sen menghadirkan wawasan
penting pada zaman yang genting.
Kado bagi wacana tentang perang
dan perdamaian yang lagi hingar-bingar. Dus,narasi serta
kontemplasi yang akan menyuntikkan dosis rasa kemanusiaan ke
dalam lengan teoriteori intelektual. Selamat membaca,
selamat merajut makna
WINDO WIBOWO
PENIKMAT FILSAFAT, GIAT DI CAK
TARNO COMMUNITY, DEPOK
|