|
Memikirkan Kembali Makna Identitas
Dwi Fitria
Jurnal
Nasional Edisi No.009 Minggu I - April 2007
Dalam hidupnya, seorang manusia
tak akan bisa dilepaskan dari Identitas.
Setiap manusia akan digolongkan
mennrut jenis kelamin, ras, kebangsaan, suku, umur, agamanya,
dan ba-nyak lagi kategori lainnya. Dan rasa memiliki sebuah
identitas ini adalah sesuatu yang amat penting bagi manusia.
Memiliki identitas akan menjadi sumber lahirnya kebanggaan,
kebahagiaan, juga sumber tumbuhnya kekuatan dan kepercayaan
diri.
Saat seorang manusia menjadi
semakin dewasa, maka ia akan menyadari keberadaan dirinya
sebagai sebuah entitas terpisah yang tak berdaya menghadapi
banyak hal. Oleh karenanya keterpisahan seorang manusia,
menurut Erich Fromm, membuat eksistensi diri seorang manusia
menjadi tak tertahankan. Untuk membebaskan dirinya dari hal
ini manusia kemudian mencari penyatuan, mengindentikkan
dirinya dengan sesuatu, menyatukan dirinya dengan kelompok
lain di luar dirinya, Oleh karenanyalah kemudian Identitas
menjadi sesuatu yang amat penting.
Rasa tentang identitas bisa
memberi sumbangan berarti bagi kekuatan dan kehangatan
hubungan kita dengan pihak lain, seperti tetangga, anggota
komunitas yang sama, sesama warga negara, atau penganut
agama yang sama. Perhatian kita pada identitas tertentu bisa
mempererat pertalian dan membuat kita bersedia melakukan
berbagai hal satu sama lain dan turut membawa kita melampaui
hidup yang berpusat pada diri sendiri... Namun pemahaman
macam ini harus disertai oleh sebuah pemahaman yang lebih
dalam bahwa suatu rasa akan identitas dapat sungguh-sungguh
membuat orang menampik yang lain, (hal 4)
Identitas menyatukan kita dengan
sebuah kelompok, namun memisahkan kita dengan kelompok yang
lain. Dan di banyak tempat di penjuru dunia pembagian
identitas macam ini adalah akar dari segala kekerasan serta
tindakan brutal yang tak berperikemanusiaan.
Di Ambon misalnya, pemisahan
identitas antara orang-orang beragama Islam dan orang-orang
beragama Kristen adalah sumber dari segala perpecahan dan
kekerasan berkepanjangan yang pada akhirnya meluluhlantakkan
daerah itu. Pemilahan identitas macam ini membuat banyak
orang yang sebenarnya jika diruntut masih bersaudara,
berdiri di pihak-pihak berseberangan. Pemisahan identitas
ini pula yang menyebabkan pihak yang satu tak ragu melakukan
kekerasan pada orang yang dianggap berasal dari pihak yang
berseberangan.
Sebuah garis yang tegas
dibentangkan untuk memiscdikan diri dari identitas yang
dianggap berbeda. Mereka berbeda dari jenis kami, antara "kita"
dan "mereka."
Keadaan ini menurut Sen
sepertinya dimaksudkan untuk mengenyahkan ciri-ciri
identitas lain —yang tidak terlalu tampak berbeda—yang juga
dimiliki oleh orang-orang yang berada di pihak lawan,
termasuk salah satunya adalah keberadaan mereka sebagai
sesama manusia. (hal 6)
Manusia tak mungkin hanya
memiliki satu identitas tunggal dalam kehidupannya.
Seseorang beragama Islam misalnya, namun di saat yang
bersamaan ia bisa juga seorang Arab, seorang ayah, seorang
anak, seorang guru dan lain sebagainya. Menurut Sen, untuk
mencegah dimanfaatkannya model pengelompokan tertentu untuk
kepentingan aksi-aksi yang agresif, maka kekuatan identitas
agresif harus dilawan dengan daya identitas kompetitif atau
saling bersaing.
Menyadari bahwa orang tak semata
didefinisikan oleh sebuah identitas tunggal, dan bahwa
mereka memiliki banyak identitas lain yang bisa mereka pilih
akan membuat orang memiliki pandangan berbeda dalam
mengelompokkan orang, dan ini dapat mencegah tindakan tak
berperikemanusiaan akibat ilusi tentang identitas.
Untuk ukuran pakar sekelas
Amartya Sen, buku ini termasuk mudah dibaca dan dicerna.
Terlebih lagi masalah utama yang dikemukakannya amat aktual
dipakai untuk membaca kondisi Indonesia sendiri, yang hingga
kini nyaris tak pernah lepas dari konflik akibat perpecahan
golongan.
Amartya Sen berangkat dari
premis bahwa identitas tak seharusnya menjadi sebuah sumber
perpecahan yang menelan korban jutaan jiwa manusia. la
mengurai bahwa dari tiap identitas yang dikenakan
masing-masing orang, ada identitas universal yang patut
terus dicamkan, identitas mendasar sebagai seorang manusia.
Dan bahwa orang tak boleh begitu saja menerima identitas
yang dikenakan kepadanya, harus ada proses berpikir dan
menelaah terlebih dahulu sebelum seseorang memutuskan kepada
golongan mana ia akan mengidentikkan dirinya.
Andai banyak orang yang mau
memikirkan apa yang coba ia sampaikan, niscaya dunia akan
menjadi sebuah tempat yang lebih baik.
(dwifitria@jurnas.com)
|