| |
Lidah Sembilu
Topan/Nur/Harri
(Institut Nalar Jatinangor)
Pikiran
Rakyat, 6 Januari 2007
Idealnya, pemimpin yang jujur
menjadi impian masyarakat. Namun, tidak demikian menurut
"Tuba", salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Lidah
Sembilu. Di sana, kejujuran seorang bupati justru
dikutuki sebagian masyarakatnya, bahkan mengantarkan Sang
Bupati pada kematian. Revolusi terhadap nilai kejujuran
telah mengiringi perubahan orientasi masyarakat. Dalam
cerpen yang lain, "Menantu Baru", perantauan orang-orang
muda memaksa seorang ibu untuk berusaha menghabiskan masa
tuanya bersama anak-anaknya dengan cara membiasakan
menantunya makan masakan lezatnya. Masyarakat semakin
modern. Akibatnya, mereka semakin materialistis dan
individualistis. Menghadapi semua itu, Damhuri melawan
dengan menciptakan mitos dalam beberapa cerpennya. Di
sinilah, kesakralan mitos berusaha dipasangkan dengan
efek-efek dari modernitas yang sering terlampau mengandalkan
rasio. |