|
Efek Orientalisme terhadap Kebudayaan
Lutfiatus
Sholihah
Surya,
Minggu, 16 Juli 2006
PERGULATAN intelektual
Edward W. Said (penulis Orientalisme, sebuah kajian
gugatan Timur atas Barat) unik dan menarik dikaji, terutama
latar belakang sosialnya yang kemudian banyak memberikan
inspirasi karya-karyanya. Ia seorang berbangsa Arab yang
beragama Kristen Anglikan. Tentang mengapa hal ini terjadi,
ia mengaku tidak tahu-menahu dan menerima begitu saja.
Tentang agamanya, jelas diturunkan dari garis silsilahnya,
walaupun umat Kristen Palestina umumnya memeluk aliran
Ortodoks.
Soal namanya, Said
berasal dari nama Pangeran Wales yang begitu dikagumi ibunya
ketika ia lahir pada tahun 1935. Katanya, “Saya kira ibu
saya menganggapnya sangat menawan dan elegan.” Ibu Edward
pula yang membacakan Hamlet lantang-lantang kepada
Said saat ia masih 9 tahun. Sang ayah lebih nyeleneh
lagi. Sebagai importir perkakas kantor kaya-raya yang
tinggal di Kairo, dengan bisnis yang membentang sampai ke
Beirut, kewarganegaraan yang disan dangnya malah Amerika
Serikat, bahkan pernah ikut bertempur di pihak AS selama
Perang Dunia I.
Dengan riwayat diri
yang unik seperti itu, tak heran bila persoalan utama yang
bergejolak dalam pemikiran Edward kemudian adalah identitas.
la yakin identitas suatu personalitas individu atau suatu
bangsa yang tidak bisa dimampatkan, digeneralisasi, atau
disimplifikasikan menjadi ‘satu atau satu-satunya identitas’.
Sejarah yang merentang
panjang di belakangnya sesungguhnya mustahil hanya bergerak
di satu garis lurus, pasti ada pelbagai pengaruh yang
bercampur-aduk dalam merumuskan jati diri yang terbentuk
sekarang. Singkatnya, identitas tak bisa diabsolutkan.
Pergulatan mencari identitas ini lalu memengaruhi
karya-karyanya. Salah satu pengaruh itu, pertama, dapat
dibaca ulasan Lutfi Assyaukanie (2005).
Kata Assyaukanie, sejak
Edward melakukan serangan terhadap orientalisme, studi
kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah
anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana muslim yang
hendakmelakukanstudi kritis terhadap Alquran, Hadis, atau
sejarah Nabi Muhammad, akan ragu karena mereka khawatir
disamakan dengan para orientalis yang memang memiliki citra
sangat buruk di dunia Islam.
Dengan beban psikologis
seperti itu, studi kritis terhadap sumber-sumber Islam
klasik tak bisa lagi dilakukan secara bebas. Para sarjana
Islam yang mencoba melakukan kritik terhadap tradisi Islam
klasik merasa perlu terlebih dahulu melakukan
disclaimer bahwa mereka bukanlah orientalis dan apa yang
mereka lakukan sesungguhnya demi kebaikan peradaban Islam
dan bukan karena membela kepentingan Barat atau orientalisme.
Beban psikologis itu
tentu amat menganggu, menguras energi, dan waktu. Alih-alih
memfokuskan diri kepada pokok pembahasan, para sarjana
muslim disibukkan berdebat tentang hal-hal yang sama sekali
tidak pokok. Padahal, kalau mereka langsung masuk ke pangkal
permasalahan tanpa terlalu mempersoalkan dari mana sebuah
metode ilmu didapat, maka banyak hal yang bisa dilakukan
dengan segera.
Akhirnya, buku ini
dapat dipakai sebagai alat membaca tentang identitas, yang
bagi Edward adalah sesuatu yang tak pemah utuh. Bagaimana
mungkin Israel mau bersikap eksklusif terhadap identitas
Yahudinya dengan menolak mengakui eksistensi bangsa
Palestina, bila ternyata Nabi Musa, sang pendiri Bani
Israel, justru seorang Mesir, bukan Yahudi.
Buku ini merupakan
pemikiran terakhir Edward berasal dari ceramah yang dicekal
oleh sponsornya sendiri, Institut Freud di Wina, Austria.
Dengan membongkar identitas resmi Yahudi-Israel, Edward
bukan cuma meruntuhkan klaim-klaim terdasar gerakan zionisme
(yang sangat kontekstual dengan perkembangan mutakhir di
Jalur Gaza dan Tepi Barat), namun juga memperluas wawasan
kita tentang bagaimana persoalan identitas harus disikapi.
LUTFIATUS SHOLIHAH
ALUMNUS FAKULTAS SASTRA ARAB UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
|