Unduh katalog PDF (± 800 Kb)
 
Non-fiksi
     Globalisasi
     Ekonomi-Politik
     Sosial
     Filsafat
     Kajian Budaya
     Kajian Indonesia
 
Fiksi / Sastra
     Novel / Cerpen
     Puisi
    
SERI Issues of Our Times
SERI Mengkaji Anarkisme
    
Akan terbit !!
 
 Pesan buku
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

Tawa Pahit Si Tukang Recok

 

Nugroho Dewanto

TEMPO, 8 Januari 2006

 

Kartunis Meksiko, El Fisgón, menggambarkan muramnya globalisasi lewat komik. Menggabungkan sarkasme Rius dan ketekunan Noam Chomsky.

 

Nama lengkapnya Rafael Barajas Duran. Tapi publik Meksiko lebih mengenalnya sebagai El Fisgón alias si Tukang Recok. Ia telah menerbitkan tujuh buku, mendirikan dua majalah humor, dan menjadi ilustrator sejumlah buku anak-anak. Ta juga kartunis politik terkemuka, dan sehari-hari bekerja di La Jornada, harian kiri paling kredibel di Meksiko.

 

Dengan latar belakang itu, bisa seperti apa penggambarannya tentang globalisasi. Yang jelas, ia berseberangan dengan Thomas Friedman, wartawan Amerika penulis buku The World is Flat. Sementara Friedman selalu melihat dan sisi yang cerah, Fisgón dan sisi muram.

 

Seluruh cerita dilihat dan sudut pandang tokoh Charro Machoro, pebisnis kecil yang gagal melulu. Ia akhirnya nekat melintasi gurun Arizona untuk menemui dukun
finansial tersohor: Cassandra Carerra. Tapi bukan jimat yang didapat. Carerra malah memberinya pelajaran sejarah ekonomi dan masa pra-kapitalis sampai era konglomerasi global.

 

Di tangan El Fisgón, sejarah yang panjang dan kompleks itu disarikan dengan gamblang lewat gambar dan kata-kata sederhana. Sering kali menimbulkan tawa pahit. Seperti Eduardo del Rio alias Rius yang membuat komik politik Marx for Beginners, El Fisgon gemar menggunakan teknik kolase. Ilustrasi, etsa, cukilan kayu dan abad lampau dicomot, difotokopi, dan disandingkan dengan kartunkartun kontemporer. Tokoh-tokoh atau peristiwa nyata dan masa lalu bisa berdialog dengan persoalan zaman sekarang.

 

Membaca komik El Fisgón juga seperti membaca sejarah yang berulang. Dulu, Inggris menggempur Cina ketika pemerintah Cina berusaha menghentikan kartel obat biusnya (him. 26). Kini, dengan berdebar-debar kita menunggu apa yang akan terjadi ketika Evo Morales, seorang petani koka, terpilih menjadi presiden di Bolivia. Bagi kaum Indian Aymara dan Quechea –penduduk asli Bolivia— jauh sebelum koka digunakan untuk membuat kokain, daun koka biasa mereka kunyah untuk obat pelangsing. Mengkonsumsi daun koka dan teh tradisi sehari-hari petani Bolivia. Maka, kebijakan Amerika yang disebut "Plan Dignidad" (Dignity Plan), yang bertujuan mengurangi produksi koka sampai serangan terhadap cara hidup petani dan penduduk asli Bolivia.

 

El Fisgón juga menunjukkan perang sebagai alat kaum neoliberal di Amerika untuk menguasai sumber daya alam di negara-negara lain. Salah satu penyuplai minyak
potensial Amerika adalah Kazakhstan—punya cadangan minyak berlimpah dan belum dikeduk. Untuk mengalirkan minyak dan sana, diperlukan pipa. Dan kalau Anda tak mau pipa tersebut melewati Rusia, salurannya harus dibuat melalui Afganistan.

 

El Fisgón menunjukkan kemunafikan itu. Ia menampilkan dua gambar pejuang mujahidin yang menenteng Senapan Kaiashnikov di tangan kin dan tangan kanannya berlumuran darah. Dua gambar itu sama persis. Yang satu ia tulisi: Sekutu AS di Afganistan. Yang lain: Seteru AS di Afganistan. Dan di bagian atas ia menulis dengan huruf-huruf besar: Temukan Bedanya! (hlm. 164).

 

Satu lagi yang menarik, El Fisgón juga terbukti periset yang tekun. Bak Noam Chomsky dalam bukunya Profit Over People, ia mengutip data-data Bank Dunia yang menggambankan merosotnya taraf hidup masyarakat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin akibat globalisasi.

 

Tahun 1990, 242 juta orang di Sub-Sahara Afrika hidup dengan kurang dan dua dolar sehari. Pada 2002, 302 juta rakyat hidup dengan kurang dan sedolar sehari. Dan menurut angka paling baru, 78 persen rakyat hidup dengan kurang dan dua dolar sehari (hlm. 126).

 

Begitu buruknya globalisasi, tak mengherankan bila El Fisgón justru memuji sikap ngotot Uni Eropa yang tak mau membuka pasar pertaniannya dalam perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ia menyebut sikap itu sebuah kebijakan prorakyat (him. 191). Padahal sikap Uni Eropa justru dikecam negara-negara miskin di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dan nyaris membuat sidang WTO di Hong Kong dua pekan lalu mengalami jalan buntu. Sampai di sini kita tak tahu di mana El Fisgón akan berpihak.

 

 

Situs resmi penerbit Marjin Kiri. Marjin Kiri tidak punya alamat internet lain selain situs ini.

© 2005-2007 PT Cipta Lintas Wacana

 

www.marjinkiri.com | Terakhir diperbarui: 12 Juli 2007