|
Komik "Berat" yang
Menggelitik
Adi Baskoro
Minggu, 30 April
2006, Jawa Pos, Rubrik Resensi Buku
Upaya
menurunkan tema-tema pengetahuan "berat" dalam buku lewat
kompilasi grafis tetaplah eksis. Para ilustrator dan
kartunis kian lihai meracik bukunya. Gagasan-gagasan nakal
lewat bahasa gambar pun tak berbatas. Terlebih lagi jika
penyajiannya dibumbui ide-ide pedas, humor, parodi, dan
kritik.
Misalnya saja, ada Zen Comics sebuah kompilasi gambar
karya Ionna Salajan, berkisah nukilan-nukilan percakapan ala
budaya Zen. Ada juga Marx untuk Pemula, konon dari komik ini
turut membidani ide kemunculkan
komik-komik bertema gigantik lainnya. Komik
Marx untuk Pemula dalam versi bahasa asing pernah beredar
dalam bentuk fotocopian dikalangan mahasiswa.
Judul-judul
komik seperti Chaos Theory, Postmodern, Cultural Studies,
Etika, Kosmologi, Freud, dan lainnya pernah muncul di
akhir tahun 1990-an. Komik-komik ini bertema pengetahuan
alam, budaya, hingga filsafat. Walaupun dikemas dalam bentuk
komik kesan berat untuk menangkap isinya amat terasa.
Dalam karya El Fisgon, "Si Tukang Recok", ia mengurung
komiknya dalam tema ekonomi politik.
Inilah karya kartunis terkemuka Meksiko berjudul asli:
How To Succeed at Globalization: A Primer for Roadside
Vendors. Tema raksasa globalisasi dalam komik ini
terbukti penuh kritikan dan gelitik khas Amerika Latin.
Fisgon mengawali kisahnya dari mata pelajaran sejarah
kolonialisme masa silam: masa prakapitalisme. Seorang
pebisnis kecil yang selalu gagal, Charro Machoro dan seorang
dukun finansial, Cassandra Carrera menjadi mengait cerita.
Alur sejarah bisnis dan bumbu-bumbu kebusukan kapitalisme
tak lupa diungkapkan. Layaknya adegan-adegan filmis, komik
ini mengantarkan lembaran sejarah penghisapan antar manusia
atau bangsa dibalik motif ekonomi.
Namun padatnya kejenakaan Fisgon memberikan hiburan khas ala
Mexiko pada pembacanya. Persoalan gigantik semacam
globalisasi dan poskolonial dalam komik ini menjadi lebih
renyah tanpa harus mengerutkan kening saat membaca. Dua hal
penting yang patut dicatat adalah kiat bisnis yang tak ada
duanya: kiat yang tidak mengajari kita cara agar lekas
kaya, namun menjelaskan mengapa kita terus menerus miskin,
persis dijelaskan pada sampul kulit belakang komik ini.
Konon bangsa Meksiko memang
dikenal suka tertawa, ungkap Ronny Agustinus, translator
komik ini, dalam pengantar terjemahannya. Lelucon kocak ala
Meksiko mewarnai lembaran komik setebal 200 halaman.
Misalnya saja Fisgon mengklaim George W. Bush sebagai
Presiden Meksiko Terburuk yang pernah Ada. Fisgon pun
menuduh Bush menyontek gaya politikus Meksiko yang biasanya
senang akan senjata api dan berbohong secara sistematik.
Bush bahkan lewati kendala yang dimiliki politikus Meksiko,
ia punya akses teknologi dan gudang senjata (hlmn 198 dan
200).
Jika membandingan dengan Fahrenheit 9/11, film dokudrama
karya Michael Moore, maka Anda akan menemui beberapa
kesamaan dalam soal membadaikan kritik pada Dinasti George
Bush. Misalnya saja tuduhan kuat penyerangan Amerika dan
Inggris pada Irak dipastikan bermotif mendulang emas hitam
alias minyak bumi dan berlatar bisnis persenjataan.
Globalisasi sebenarnya bukanlah
hal baru. Saat ekspansi Alexander Agung ke berbagai belahan
dunia di sanalah gagasan-gagasan penguasaan ditiru oleh
sejarah diabad-abad berikutnya. Secara
sederhana akar globalisasi terbentuk dari sejarah
kolonialisme masa silam. Dalam bahasa Fisgon bentuk baru
kolonialisme ekonomi yang berlanjut, dikenal secara umum
sebagai "Globalisasi", istilah keren bagi perampok
sistematis atas dunia ketiga oleh negara-negara kaya (hlm.
101) Sebenarnya globalisasi juga pernah diramalkan oleh Bung
Karno lewat istilah Nekolim: Neokolonialisme dan
imperialisme. Globalisasi dapat dikatakan juga sebagai
liberalisasi pasar dan pola penjajahan bentuk baru.
Komik ini
mengingatkan pada diskusi penting di Soegeng Sarjadi Forum
dalam bedah buku John Perkins: Confessions of an Economic
Hit Man. Sebuah buku yang menjadi bahan kajian Kwik Kian
Gie, Amien Rais, dan kalangan intelektual
dalam memetakan persoalan globalisasi, hutang luar
negeri, dan neokolonialisme. Lalu korporatokrasi sebagai
istilah tiga pilar penting persekongkolan antara korporasi,
pemerintah, dan bank-bank internasional yang berulang kali
diingatkan oleh Amien Rais dalam berbagai forum diskusi.
Tak ada hal baru
dalam desa global ini, selain temuan-temuan teknologi
informasi yang kian canggih dan berfungsi sebagai intrumen
perpanjangan tangan dari globalisasi. Sejarah keserakahan
korporasi multinasional yang tak terbayangkan dan kebijakan
pasar bebas yang membuahkan penjarahan atas negara-negara
miskin. Tentu kasus Freeport ataupun
Blok Cepu cukup menjadi contoh bagi kita sebagai bagian
lembaran naskah di ruang kebebasan pasar. Bagi yang tak mau
berumit-rumit memahami akar globalisasi, komik ini cocok
untuk Anda. |