|
Memotret Fenomena Globalisasi dalam Sepak Bola
Algooth
Putranto
Bisnis
Indonesia, 11 Juni 2006
Kita pantas berterima kasih atas
keberanian para nenek moyang berbagai bangsa yang dengan
gagah berani mengarungi ganasnya samudera untuk berdagang.
Dari situ terjadi tukar menukar komoditi, budaya, bahasa,
hingga agama.
Globalisasi ekonomi tradisional
itu berjalan dan semakin cepat berkat kolonialisme, di mana
satu persatu negara-negara kuat dari belahan dunia Eropa
bermunculan mencaplok wilayah-wilayah yang dihuni suku
bangsa primitif.
Dampaknya bisa kita rasakan
hingga sekarang, bahasa turunan suku bangsa Anglo Saxon
menjadi bahasa internasional dan bahasa Latin menjadi 'orangtua'
bahasa di banyak negara.
Salah satu akibat globalisasi
yang wajib disyukuri itu adalah sepak bola yang konon dulu
adalah ritual agama suku Indian yang kemudian diakui secara
sepihak diciptakan warga Inggris.
Patut disyukuri sebab berkat itu,
sepak bola lantas menjadi cabang olahraga yang paling
multikultural di antara cabang lain. Olahraga rebutan bola
ini sukses mengobrak-abrik sekat sosial, kultural, etnis,
agama, ideologi, dan negara.
Bahkan negara-negara yang
sejatinya ras putih kini makin bergantung pada ras berwarna
yang dulu menjadi jajahannya. Lihat saja timnas Prancis,
Belanda, dan Inggris yang dijejali ras kulit berwarna dengan
sosio-kultur berwarna pula.
Tidak itu saja, negara Jepang
yang sangat patriotis dengan kemurnian ras mereka, mengambil
langkah radikal dengan menaturalisasi pemain bola berbakat
dari bangsa lain semata-mata demi sepak bola juga.
Kondisi ini bahkan makin
menggila kalau kita tengok klub-klub sepak bola profesional.
Demi prestasi tertinggi banyak uang beredar bahkan
mengalahkan harga pesepakbola dalam negeri mereka sendiri.
Namun, di tengah arus cepat
menuju asas multikultural yang menghargai heterogenitas,
justru terjadi pemupukan sikap primitif tak beradab lewat
rasisme, hooligans, hingga kejahatan terencana terhadap
pemain asing di klub yang membobol gawang negara tempat
klubnya berada.
Selalu menarik
Warna-warni dunia sepak bola ini
begitu menarik dan salah seorang penulis yang begitu
tertarik mengisahkan tentang globalisasi dalam sepak bola
secara apik sekaligus sinis adalah Franklin Foer.
Redaktur majalah New Republic
dan penulis berbagai media terkenal AS ini memotret fenomena
sosial dan politik dunia melalui sepak bola yang fenomenal
sekaligus kontroversial, kompleks, dan selalu menarik untuk
dikaji.
Namun, cara bertutur Foer sangat
berbeda dibandingkan buku tentang sepak bola dan globalisasi
karya penulis yang juga sosiolog, Richard Giulianatti dalam
Sepak Bola, Pesona Sihir Permainan Global yang lebih
dahulu terbit.
Foer lebih banyak menekankan
pada sisi gelap sepak bola yang timbul dan terus-menerus
menjadi penghambat semangat asas-asas kebersamaan yang terus
digelorakan oleh sepak bola.
Sepuluh tulisannya yang saling
terpisah itu dibawakan dengan naratif bak sebuah adegan yang
jalin-menjalin di layar lebar. Ada amarah, kebencian, hingga
tingkah laku bodoh bercampur dilusi kemanusiaan yang secara
tak sadar diimani para suporter sepak bola.
Foer juga piawai memasukkan
anekdot, satir, stereotipe, dan fakta sejarah yang
memengaruhi terbentuknya kondisi sosial komunitas penggemar
sepak bola yang ternyata jalin-menjalin.
Mulai dari
gangster Serbia yang menyontek budaya fashion dan brutalisme
hooligans Inggris, konflik agama yang menodai sepak bola,
nasib kulit hitam di Eropa Timur, hingga kegamangan tradisi
bermain bola dengan tangan masyarakat Amerika. Kekurangan
buku ini adalah karena Foer tidak memasukkan kondisi
multikulturisme dan menguatnya kecenderungan naturalisasi
sepak bola masa kini yang sebetulnya sangat jelas
menampakkan wajah globalisasi.(algooth.putranto@bisnis.co.id)
|