|
Mempopulerkan Anarkisme
Donni Ramdani
Koran Tempo,
25 Februari 2007
Kerusuhan dan
keributan ini, V… Inikah anarki?
Anarki berarti
“tanpa pemimpin”, bukan “tanpa peraturan”. Bersama anarki
datang masa ordnung, masa keteraturan sejati…
dgn kata lain keteraturan secara sukarela. […] Ini
bukan anarki, Eve. Ini kekacauan.
(petikan
percakapan V dengan Eve dari komik V for Vendetta,
hlm. 195)
Anarki dan
kekacauan, samakah?
Ya bila kita lihat
pemakaian kata “anarki” dalam bahasa sehari-hari. Tapi tidak
bila kita melihatnya dari sejarah aliran pemikiran kritis.
Buku Sean M. Sheehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah
Gerakan Perlawanan (Marjin Kiri, 2007) berusaha mengupas
sejarah anarkisme sebagai sebuah falsafah politik, dengan
dampaknya yang meluas pada bidang kebudayaan dan kesenian.
Sebagai falsafah
politik, anarkisme sering dianggap tidak serius dan
diasosiasikan sebagai “kenakalan liar” belaka. Sebagian
penyebabnya adalah karena anarkisme menolak konsep Negara
tunggal atau tersentral, padahal “Negara berdaulat adalah
sumber otoritas politik sebagaimana yang kita pahami.
Sedemikian kuat konsep ini sampai sulit untuk membayangkan
apa jadinya ilmu politik tanpa konsep Negara” (Anarkisme
hlm. 23). Meskipun menentang Negara, anarkisme tidaklah
menentang pemerintahan dalam arti “administrasi
sistem politik”. Anarkisme mendambakan pemerintahan
swakelola yang dijalankan sukarela oleh warganya, bukan
lewat paksaan aparatus hukum Negara yang kita kenal
sekarang.
Proyek macam ini
sering dibilang utopis, namun Sheehan mencontohkan
komunitas-komunitas anarkis kuno maupun baru yang terbukti
mampu menjalankan ideal macam ini, mulai dari komunitas
Diggers di Inggris abad ke-17 sampai komunitas Zapatista di
Meksiko yang melancarkan pemberontakan menjelang akhir abad
ke-20. Sheehan juga merayakan kejayaan kubu Anarkis dalam
memerangi pasukan Fasis dalam Perang Saudara Spanyol tahun
1930-an. Dalam perang inilah terbukti bahwa prinsip-prinsip
anarkis mungkin diterapkan dalam penataan kehidupan politik
modern. Revolusi anarkis ini terbukti berdampak positif pada
kinerja perekonomian. Produksi pertanian Spanyol meningkat
antara 1936 dan 1937 (hlm. 102). Sheehan menggugat, meski
bukti-bukti ini berlimpah, “namun anehnya tidak dianggap
sebagai argumen bahwa anarkisme itu mungkin diterapkan pada
abad ke-21.” (hlm. 49).
Dianaktirikan
dalam lingkup ilmu sosial-politik, anarkisme justru memberi
banyak pengaruh dalam kebudayaan dan kesenian. Musik punk
misalnya, adalah anak kandung anarkisme. Sheehan memaparkan
banyak contoh karya-karya sastra dan film yang mengangkat
tema atau prinsip anarkisme dengan stereotipnya
masing-masing. Sungguh kebetulan bahwa dalam waktu yang tak
beda jauh terbit pula komik V for Vendetta (Gramedia,
2006) yang juga bisa dipakai sebagai contoh bagaimana
anarkisme ditampilkan dalam budaya pop. Publik Indonesia
mungkin lebih dahulu mengenal V for Vendetta di layar
lebar.
Alkisah dalam
komik ini, Inggris tahun 1997 dikuasai oleh kediktatoran
fasis Takdir yang dipijakkan pada konspirasi militer,
birokrat, dan rohaniawan, dengan dipadu oleh kemahakuasaan
teknologi. Kebudayaan, kesenian, dan pemikiran pada umumnya
diberangus. Rakyat hanya boleh mendengarkan siaran radio
yang mengudarakan Suara Takdir. Kamera televisi siaran
terbatas (CCTV) dipasang di tiap sudut jalan mengawasi gerak
gerik masyarakat. Intel bertebaran di mana-mana. Kebebasan
nol. Dalam kata-kata Sang Pemimpin: “Aku percaya pada
persatuan. Dan jika kekuatan itu, kesamaan tujuan itu
menuntut keseragaman pikiran, kata, dan perbuatan, itulah
yang harus diterapkan.” (Vendetta, hlm. 37).
Di tengah situasi
represif inilah muncul tokoh V yang melancarkan serangkaian
perlawanan dengan teknik-teknik anarkis. V adalah tokoh
eksentrik yang memakai jubah dan topeng teater yang selalu
tersenyum. Dulu ia pernah dijadikan kelinci percobaan medis
di kamp konsentrasi, namun tak ada penjelasan bagaimana
setelah lolos ia bisa merintis proyek perlawanannya. Yang
jelas, di rumahnya berjajar karya-karya sastra, musik, dan
film yang telah diberangus dari kehidupan publik. Dari
sinilah ia menimba ilmu dan inspirasi tentang kebebasan.
V disebut anarkis
karena dalam perlawanannya ia tidak berusaha menggulingkan
rezim Takdir lalu menggantinya dengan “pemerintahannya”
sendiri. Ia berusaha menyadarkan masyarakat bahwa ada
kehidupan lain di luar hidup yang mereka alami sekarang ini.
V cuma membuka jalan, hanya pemberontakan bersamalah yang
bisa mengubah kehidupan. Hal pertama yang dilakukannya
adalah meledakkan Gedung Parlemen. Rezim berusaha berdalih
bahwa ini adalah “penghancuran disengaja untuk menghindari
kemacetan.” Kekuasaan yang hendak berlaku total dalam
prakteknya justru mudah digoyang oleh hal-hal kecil, karena
itulah V lalu menculik Komandan Lewis Prothero yang setiap
harinya menjadi pengisi Suara Takdir di radio. Karena tak
berhasil menemukan penggantinya, rezim pun siaran seadanya,
dan “seluruh negara mendengarkan. Ada yang salah dengan
Suara Takdir. Hal seremeh itu telah menebarkan bayangan
gelap […] Segalanya tak lagi sama.” (hlm. 36). Totalitas
Negara mulai rontok.
Komik V for
Vendetta adalah novel grafis serius yang sungguh memukau
dalam cerita maupun visualnya. Sayang sekali penggarapan
edisi Indonesia ini tidak sepadan dengan kualitas komik ini
aslinya. Banyaknya salah penggal kata menunjukkan rendahnya
kualitas proofreading, sementara penerjemahan
beberapa kutipan yang merujuk pada karya-karya sastra
“tinggi” tidak dilandasi pengetahuan memadai tentang kutipan
tersebut, sehingga membuat tokoh V jadi kelihatan seperti
tukang ngelantur yang tidak jelas apa yang dibicarakannya.
Lihat kutipan puisi W.B. Yeats ini di hal. 196:
“Berputar-putar di pusaran yang membesar, burung falcon
tak dapat mendengar tuannya, segalanya hancur… inti tak
dapat bertahan.” Andai penerjemah mau sedikit teliti melacak
puisi tersebut, tentu akan tahu bahwa puisi “The Second
Coming” ini dipakai sebagai epigram pembuka mahakarya Chinua
Achebe Things Fall Apart, yang telah diterjemahkan
dengan sangat baik menjadi Segalanya Berantakan
(Sinar Harapan, 1986): “Berputar-putar dalam putaran
melebar/ elang pun tiada mendengar sang pemburu/ segalanya
berantakan; pusat tak dapat bertahan/ hanya anarki kini
melanda dunia.”
Achebe memakai
puisi Yeats sebagai alegori runtuhnya kolonialisme di
Afrika, dan Moore mengutipnya di Vendetta sebagai
alegori runtuhnya pusat kekuasaan fasisme Takdir--sesuatu
yang tak tertangkap dalam terjemahannya di komik ini. Hal
sama juga berlaku untuk kutipan soneta-soneta Shakespeare,
yang tentunya akan jadi lebih baik bila penerjemah mau
menengok terlebih dahulu hasil terjemahan Trisno Sumardjo.
Meski kedua buku
ini menyegarkan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya
buku-buku anarkisme diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Setahu saya, dulu pernah beredar secara bawah tanah
terjemahan karya tokoh-tokoh anarkis macam Rudolf Rocker dan
Emma Goldman dalam bentuk stensilan. Namun inilah pertama
kalinya buku tentang anarkisme digarap secara serius dan
beredar di toko buku mainstream. Apakah dengan ini
wacana anarkisme diharapkan bisa dengan bebas memasuki ruang
publik tanpa disertai kecurigaan dan resistensi? Sepertinya
itulah yang hendak disasar oleh penerbit Marjin Kiri,
seperti bisa dibaca pada penjelasan mereka: “Apakah kita
tengah berada dalam era kebangkitan anarkisme global sebagai
respon terhadap neoliberalisme global? Hal ini penting untuk
dikaji, karena setelah kapitalisme dan komunisme turut
menanggung dosa sejarah yang besar, barangkali anarkisme
kontemporerlah yang bisa menawarkan alternatifnya.” (Anarkisme,
hlm. i). Mengkaji anarkisme secara ilmiah dalam konteks
neoliberalisme sekarang tentu saja menarik, meski ada
beberapa soal yang masih bisa diperdebatkan. Benarkah
gerakan-gerakan antineolib yang sering disebut sebagai
“masyarakat sipil global” ini sama dengan “anarkisme
global”? Tidakkah neoliberalisme yang bertujuan menciutkan
seminimal mungkin peran Negara justru berbatasan tipis
sekali dengan prinsip anarkis yang menolak Negara terpusat?
Banyak pertanyaan
belum terjawab dari buku Sheehan, namun kehadirannya diharap
bisa memberi masukan baru dalam pemikiran progresif di
negeri ini. Ketika “kiri” disebut-sebut, asosiasinya diharap
tidak lagi tertuju secara kaku pada “sosialisme” atau
“komunisme” semata, namun juga “anarkisme” dan pelbagai
varian pemikiran libertarian lainnya. Sheehan bahkan
menggarisbawahi keberagaman spektrum politik kiri ini
dengan menuliskan bahwa pihak yang paling banyak menghabisi
gerakan anarkis justru bukan kaum kapitalis, melainkan Lenin
dan Stalin yang komunis.
Tapi sebagai
gagasan, anarkisme terbukti mustahil dihabisi. Dalam V
for Vendetta tokoh V tanpa gentar menerjang
peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: “Kau
hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah
ini yang dapat dibunuh. Hanya ada ide. Dan ide tahan
peluru.” (Vendetta, hlm. 236). Toh V tetap manusia
dan mati juga kena peluru itu. Tapi Eve sang murid
mengambilalih jubah dan topengnya untuk menjadi V baru.
Sama seperti ketika Uni Soviet ambruk dan kapitalisme
dirayakan sebagai pemenang tunggal, neo-anarkisme justru
dengan cepat merebak di sekujur bumi: Chiapas, Seattle,
Praha… Atau dalam kata-kata Eve yang sekarang menjelma V:
“Mereka bilang anarki sudah mati, tapi lihat saja… berita
kematianku dibesar-besarkan.”
(Vendetta,
hlm. 258).
DONNI RAMDANI
PECINTA BUKU, TINGGAL DI JAKARTA
|