buku

 


 
 
Globalisasi
Ekonomi-Politik
Sosial
Filsafat
Pemikiran Politik
Kajian Budaya
Kajian Indonesia
Anarkisme
Sastra
Ekologi & Agraria
Sejarah

 

 

 

Dilarang Gondrong!

Praktik Kekuasaan Orde Baru

terhadap Anak Muda Awal 1970-an

Aria Wiratma Yudhistira

ISBN 978-979-1260-07-7

161 hlm + xxii; 14 x 20,3 cm
Rp 51.000,-
 

"Kisah memikat tentang munculnya anak muda sebagai kategori politik dan budaya di masa Orde Baru. Mengambil tema gaya hidup yang sepenuhnya diabaikan dalam studi sejarah konvensional di Indonesia, studi yang orisinal ini sanggup mengupas kontradiksi dalam "politik anti-politik" Orde Baru. Terobosan penting dalam studi sejarah sosial."

Hilmar Farid, Institut Sejarah Sosial Indonesia

 

Pada awal berdirinya Orde Baru, musuh besar penguasa ternyata bukan hanya komunisme, melainkan… rambut gondrong!

 

Persoalan yang sepertinya sepele ini ternyata menyita perhatian khusus penguasa. Petinggi militer mengeluarkan radiogram pelarangan rambut gondrong, bahkan Pangkopkamtib bicara mengenainya di TVRI. Instansi publik menolak melayani orang-orang berambut gondrong. Pelajar, mahasiswa, artis, dan pesepak bola dilarang gondrong. Razia dan denda digelar di jalan-jalan, melibatkan anggota pasukan teritorial bersenjatakan gunting, bahkan pernah dibentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

 

Pertanyaannya adalah: mengapa? Mengapa Orde Baru begitu cemas akan rambut gondrong?

Dengan apik sejarawan muda Aria Wiratma menelusuri kembali episode menggelikan sekaligus mengenaskan dalam sejarah Indonesia ini, awal dari sikap paranoid rezim yang selalu melihat rakyatnya sendiri sebagai ancaman.

 

"Pelarangan rambut gondrong tahun 60-an dan 70-an bukan hanya soal perbedaan persepsi tua versus muda, militer versus sipil, laki-laki versus perempuan, tetapi menyangkut pula masalah praktik kekuasaan dan simbol perlawanan terhadap kekuasaan tersebut. Mengapa penjahat yang ditangkap aparat keamanan kepalanya digunduli ? Apakah ada anasir subversi bersembunyi di bawah rambut itu? Pada era ’70-an biasanya perampok diberitakan berambut gondrong, tetapi sebaliknya era ’90-an penculik para aktivis dikabarkan berambut cepak. Buku ini mengawali diskusi tentang kuasa terhadap tubuh pria. Wacana yang patut didorong."

— Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI

 

 

Buku ini telah diulas di:

"Kutu Subversif dalam Rambut Gondrong", majalah Historia Online, 22 April 2010.

Diskusi buku Cak Tarno Institute, 24 April 2010.

"Gondrong yang Dirongrong", resensi blog Pandangan Sebelah Mata, 25 April 2010.

Resensi blog Masad Masrur, 3 Mei 2010.
Diskusi buku radio Voice of Human Rights, 18 Mei 2010.
"Potret Anak-anak Pembangunan" (Bisnis Indonesia, 19 Mei 2010).
Resensi "Dilarang Gondrong", majalah Kabari: Jembatan Informasi Indonesia-Amerika, 16 Juni 2010.
Terpilih sebagai buku Baca Bareng Goodreads Indonesia bulan Juli 2010.
"Kuasa Negara atas Rambut" (blog The World behind Clouds, http:// fajar83kurnianto.blogspot.com, 11 Juli 2010).
"Hantu-hantu Rambut Gondrong", Koran Jakarta, 3 September 2010.
"Spirit Perlawanan Rambut Gondrong", Suara Merdeka, 10 Oktober 2010.
"Lucunya Kontroversi Rambut Gondrong", Radar Surabaya, 28 November 2010.
Terpilih dalam 100 Buku Karya Anak Negeri Terbaik Tahun 2010, blog Kompasiana, 2 Januari 2011.
"Anak-anak Korban Kekuasaan", Sinar Harapan, 12 Februari 2011.
"Membaca Buku Rambut Gondrong", Analisa, 7 November 2011.
"Anomali Negara dan Masyarakat", Analisa, 23 Desember 2011.
   
   
 

 

 

 

 

© 2011 PT Wahana Aksi Kritika

© 2005-2009 PT Cipta Lintas Wacana

www.marjinkiri.com | Terakhir diperbarui: 17 Januari 2012